in

Kesultanan Kuntu Darussalam

Sejarah keberadaan Masyarakat Adat Kuntu dilalui dengan beberapa fase yaitu fase awal dan kesultanan Kuntu, Kerajaan gunung Sailan, masa pra kemerdekaan dan kemerdekaan. Tidak sampai seabad setelah wafatnya Rasulullah SAW, agama Islam telah menjejakkan kakinya di nusantara, yakni melalui hubungan dagang antara Ke-Khalifahan Bani Ummayah (661–750) di Damaskus dengan Kerajaan Sriwijaya Jambi (sebelum Sriwijaya Palembang). Melalui hubungan itu pada tahun 718 M, Sri Maharaja Sirindrawarman masuk Islam. Sehingga wilayah sentral produksi merica Nusantara yang telah terkenal sejak tahun 500-an, seperti daerah Batang hari Jambi, Kuntu Kampar, Minangkabau dan Aceh Barat, secara defacto berada dalam kekuasaan Kerajaan Islam yang tunduk kepada Khalifah Bani Umayyah.

 

Namun 4 tahun setelah kejadian itu, Kerajaan dinasty Tang Cina, merebut semua wilayah penghasil merica nusantara. Kerajaan Sriwijaya Jambi yang telah Islam dibumi hanguskan, diganti dengan munculnya Kerajaan Sriwijaya Palembang yang beragama Budha Mahayana dibawah kekuasaan Dinasty Saylendra. Sedangkan di Jambi sendiri saat itu berdiri Kerajaan Darmasraya yang juga beragama Budha. Akibatnya, hampir selama 400 tahun kemudian (730-1128) perkembangan Islam, khususnya di Kepulauan Sumatera nyaris terhenti. (dimasa inilah dalam ungkapan masyarakat Kuntu dikenal istilah “Apik Tupai Panggang Kaluang”. Untunglah sesudah itu di Mesir berdiri Ke-Khalifahan Bani Fatimiyah (976-1168) melanjutkan usaha monopoli perdagangan di wilayah Sumatera yang secara berturut-turut berhasil merebut kembali sentral penghasil merica di muara sungai Pasai dan di hulu sungai kampar kiri. Di wilayah ini kemudian dibentuk kesyahbandaran Daya Pasai (1128 – 1204) yang tunduk dibawah kekuasaan Bani Fatimiyah di Mesir, sebagai pelabuhan Islam pertama di kepulauan nusantara.

 

Khusus untuk wilayah di sekitar muara sungai kampar kiri yang merupakan centra penghasil rempah terbesar, melalui kesyahbandaraan Daya Pasai, Ke-Khalifahan Bani Fatimiyah menempatkan satu pasukan tentara di bawah komando Panglima Zulfikar Al-Kamil. Setelah 23 tahun kekhalifaahn Bani Fatimiyah diruntuhkan oleh Salahuddin al-Ayubi di Mesir(1168), kesyahbandaran Daya Pasai yang dipimpin oleh Laksamana Kafrawi al-Kamil, berada dalam kevakuman pemerintahan induk. Akibatnya, pada tahun 1191 pasukan Zulfikar al- Kamil di muara sungai Kampar Kiri ini dipukul mundur oleh tentara Darmasraya Jambi.(Tahun 1191 merupakan tahun wafatnya Syekh Burhanuddin yang di makamkan di Kuntu, apakah dia Zulfikar al-Kamil atau hanya kebetulan? wallahu a’lam).

 

Pada tahun 1204, Kondisi Laksamana Kafrawy al-Kamil yang sudah tua, ditambah hilangnya pusat pemerintahan Bany Fatimiyah di Mesir, dimanfaatkan oleh kapten Johan Jani, panglima kapal perang kesyahbandaraan Daya Pasai untuk memberontak. Hingga Laksamana Kafrawy al-Kamil terbunuh, dan Johan Jani mengangkat dirinya sebagai Laksamana Daya Pasai, sekaligus merubah status Daya Pasai dari kesyahbandaran menjadi Kerajaan utuh. Ia menjadi Raja Daya Pasai pertama dengan gelar “Tuanku Sri Sultan Djohan Djani Alam Sjah”.

 

Meskipun Daya Pasai adalah Kerajaan Islam, tetapi bukan Kerajaan nasional Indonesia, sebab Laksamana Johan Jani atau “Tuanku Sri Sultan Djohan Djani Alam Sjah” dan para penerusnya adalah orang-orang Gujarat (India). Mungkin inilah sebabnya Daya Pasai tidak disebut sebagai Kerajaan Islam Pertama di Nusantara, melainkan Samudera Pasai sebagaimana yang dipelajari bangku-bangku sekolah.

Samudera Pasai sendiri berdiri pada tahun 1285, yakni setelah Kerajaan Daya Pasai hancur lebur dihantam gempuran dari dua arah, yakni dari darat oleh pasukan Marah Silu alias Iskandar Malik.

 

yang memimpin kelompok muslim pribumi dari Batak Aceh Gayo, dan dari laut diserang oleh armada dari Ke-Khalifahan Bani Mamaluk yang dipimpin oleh Laksamana Ismail As Siddik. Pada saat yang sama, armada Tamiang pimpinan Laksamana Yusuf Kayamudin yang bekerjasama dengan pasukan perang Dinasty Yuang berusaha menyerang pasukan Iskandar Malik namun keduanya berhasil dihancurkan oleh armada perlak di bawah komando Laksamana Muhammad Amin. Muhammad Amin sendiri adalah Ayah tiri dari Marah Silu, sehingga berdasarkan persetujuan Muhammad Amin, Marah Silu atau Iskandar Malik dinobatkan oleh Laksana Ismail menjadi Raja di Pasai yang berganti nama menjadi Kerajaan Samudera Pasai dengan gelar “Sultan Malikus us Saleh”.

 

Sultan Malikul Saleh, memiliki dua orang putra, yakni Pangeran Malik Tahir dan Pangeran Malik ul Mansur. Sepeninggal Malikul Saleh, pangeran Malik ut Tahir naik tahta (1296 – 1327) Memimpin Samudera Pasai. Sedangkan pangeran Malik ul Mansur yang menikahi salah seorang cucu dari Sultan Bahaudin Kamil, yakni Putri Nur Alam Kumalasari, memilih untuk tinggal dan memimpin di wilayah muara sungai Barumun sejak tahun 1295 (setahun sebelum pengangkatan Malik ut Tahir menjadi Raja Samudera Pasai II). Entah karena pengaruh faham Sunny yang dianut oleh isterinya, Pangeran Malik ul Mansur akhirnya membangkang pada Kerajaan Samudera Pasai yang saat itu dipimpin oleh saudaranya yang berfaham syi’ah. Sehingga pada tahun 1299 Malik ul Mansur mendirikan kesultanan Aru Barumun.

Guna menghindari perang saudara, serta khawatir dengan sabotase dari orang-orang Gujarat (India) bekas Kerajaan Daya Pasai yang mengincar menjadi Raja Daya Pasai ke-7, akhirnya Kerajaan dibagi dua, menjadi Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Aru Barumun yang wilayahnya dibatasi oleh sungai Tamiang Aceh.

 

Pada masa yang sama, yakni sekitar 1275-1289, Kerajaan Singosari di Jawa melakukan ekspansi besar-besaran dalam mengambil alih kendali perdagangan rempah2 sumatera melalui sebuah gerakan yang dikenal dengan istilah “Pamalayu Expedition”. Gerakan ini berhasil mengambil alih wilayah pusat produksi rempah di Kuntu Kampar, meskipun tidak berhasil menjatuhkan Kerajaan Samudera Pasai dan Aru Barumun.

 

Pada tahun 1292, Kerajaan Singosari di Jawa timur ditumbangkan oleh Kerajaan Kediri yang kemudian juga musnah oleh Kerajaan Majapahit. Akibatnya, sisa balatentara Singosari dalam “Pamalayu Expedition” yang berada di Kuntu Kampar, menjadi terisolasi dari Induknya yang telah musnah, sehingga Sultan Malik ul Mansur, Raja Aru Barumun dengan mudah merebut kembali wilayah Kuntu Kampar nyaris tanpa perlawanan dan dibiarkan pula oleh pihak samudera Pasai yang sejak tahun 1279 Kerajaan Perlak sebagai induknya telah berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Atas dasar itulah kemudian, Sultan Malik ul Mansur, Raja Aru Barumun mendeklarasikan berdirinya kesultanan Kuntu Kampar sebagai Kerajaan kecil (semacam propinsi) dibawah kesultanan Aru Barumun. Sultan Malikul Mansur mengangkat putranya, Sultan Said Amanullah Perkasa Alam sebagai Sultan Kuntu yang pertama. Menurut buku Tuanku Rao, Sultan Anmanullah Perkasa Alam, berwatak buruk, Sombong dan suka menindas penduduk setempat. Karena kesombongannya itu pula dia tidak mau mengakui bahwa kakeknya, Sultan Malikus Saleh (Raja Samudera Pasai) adalah orang Sumatera, melainkan katanya keturunan Iskandar Zulkarnain. Mitos inilah yang kemudian berkembang di wilayah Kesultanan Kuntu Kampar.

 

Kesultanan Kuntu Kampar terletak di Minangkabau Timur, daerah hulu dari aliran Kampar Kiri dan Kanan. Kesultanan Kuntu atau juga disebut dengan Kuntu Darussalam di masa lalu adalah daerah yang kaya penghasil lada dan menjadi rebutan Kerajaan lain, hingga akhirnya Kesultanan Kuntu dikuasai oleh Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. Kini wilayah Kesultanan Kuntu hanya menjadi sebuah cerita tanpa meninggalkan sedikitpun sisa masa kejayaan, Kesultanan Kuntu kini berada di wilayah Kecamatan Kampar Kiri (Lipat Kain) Kabupaten kampar.

Kuntu di masa dahulu adalah sebuah daerah yang sangat strategis baik dalam perjalanan sungai maupun darat. Di bagian barat daya Kuntu, di seberangnya ada hutan besar yang disebut Kebun Raja. Di dalam hutan yang bertanah tinggi itu, selain batang getah, juga ada ratusan kuburan tua. Satu petunjuk bahwa Kuntu dulu merupakan daerah yang cukup ramai adalah ditemukannya empat buah pandam perkuburan yang tua sekali sehingga hampir seluruh batu nisan yang umumnya terbuat dari kayu sungkai sudah membatu (litifikasi). Salah satu di antara makam-makam tua itu makam Syekh Burhanuddin, penyiar agama Islam dan guru besar Tarekat Naqsabandiyah yang terdapat di Kuntu. Makam itu berada dekat Batang Sebayang. Syekh Burhanuddin diperkirakan lahir 530 H atau 1111 M di Makkah Almukarramah dan meninggal pada 610 H atau 1191 M. Menurut buku Sejarah Riau yang disusun oleh tim penulis dari Universitas Riau terbitan tahun 1998/1999, Kuntu adalah daerah yang pertama-tama di Riau yang berhubungan dengan pedagang-pedagang asing dari Cina, India, dan negeri Arab Persia. Kuntu juga daerah pertama yang memainkan peranan dalam sejarah Riau, karena daerah lembah Sungai Kampar Kiri adalah daerah penghasil lada terpenting di seluruh dunia dalam periode antara 500- 1400 masehi.

 

Zaman dahulu, Kuntu dikenal sebagai daerah yang subur dan berperan sebagai gudang penyedia bahan baku lada, rempah-rempah dan hasil hutan. Pelabuhan ekspornya adalah Samudra Pasai, dengan pasar besarnya di Gujarat. Kuntu juga adalah wilayah yang strategis sebab terletak terbuka ke Selat Melaka, tanpa dirintangi pegunungan. Kuntu juga adalah tanah tua yang mula- mula dimasuki Islam yang dibawa oleh para pedagang dan di masa itu baru dianut di kalangan terbatas (pedagang) karena masih kuatnya pengaruh agama Budha yang menjadi agama resmi Sriwijaya di masa itu. Ketika Cina merebut pasaran dagang yang menyebabkan para pedagang Islam Arab-Persia terdesak, maka penyebaran Islam sempat terhenti.

Para pedagang Arab-Persia-Maroko mulai kembali berdagang di Kuntu dalam abad ke XII Masehi di masa kekuasaan Kesultanan Mesir era Fatimiyah, dinasti yang mendirikan Universitas Al Azhar di Kairo. Kuntu juga memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Islam Dayah di Aceh di bawah Sultan Johan Syah dalam hal perniagaan. Setelah Kerajaan Pasai berdiri, mereka bahkan berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah di Kuntu. Pada waktu itu dihulu sungai Siantan sudah ada suatu Kerajaan yang bernama Kerajaan Putri Lindung Bulan yang Rajanya berasal dari Hindustan yang mana Kerajaan ini pernah diserang oleh Raja kedatangan Hindustan juga, karena beliau tidak bisa memerangi Raja/Ratu Putri Lindung Bulan Aditiawarman terus lari arah ke barat setelah beberapa lama dalam perjalanan mereka sampai ke Luhak Tanah Datar, karena ia lengkap membawa senjata Aditiawarman disambut dengan baik oleh penduduk Tanah Datar karena takut dengan kelengkapan senjatanya, setelah beberapa lamanya dan akhirnya Aditiawarman menjadi penguasa dan menobatkan dirinya sebagai Raja Minang Kabau di Pagaruyuang dengan menaklukkan tiga jurai Aditiawarman berkuasa 1339 sampai 1376 dan anaknya Anggawarman 1377 sampai 1400 an. Yaitu:

  • Sultan Bakilap Alam, adalah raja pertama yang diakui.
  • Sultan persembahan.
  • Sultan Alif.
  • Sultan Banandangan.
  • Sultan Bawang (Sultan Muning l )
  • Sultan Patah (Sultan Muning ll)
  • Sultan Muning lll.
  • Sultan Sembahyang.
  • Putri Gadih Reno Sumpur.
  • Sultan Ibrahim.
  • Sultan Usman.

Aditiawarman tidak tercatat sebagai Raja Minang Kabau tetapi berkuasa di Minang Kabau Pagaruyung, bersama anak keturunannya yaitu Anggawarman sampai Raja pertama yang di nobatkan. Dan selanjutnya kembali kepada pengikut Parpatih Nan Sabatang, yang turun dari Luhak Lima Puluh, adalah 5 (lima) datuk ke Lima Kota (Kuok, Bangkinang, Salo, Air Tiris, dan Rumbio) di sungai Kampar Kanan, dan tiga datuk ke gunung lelo malintang, dan Muaro Takui (Muara Takus). Di Kampar Kiri diantaranya Dt.Raja Godang yang di Kuntu. Dengan telah hilangnya Kerajaan Putri Lindungan Bulan di sungai Siantan, yang disebut Kerajaan Minang Kabau Timur, atau Kerajaan Minang Tauwan/Kuntu Kampar. Pada abad 14 sampai abad 17, Kuntu dikuasai oleh Kerajaan Pagaruyung, Minang Kabau, dan diri sinilah cikal bakal Kerajaan Gunung Sahilan yang berada di sungai Kampar.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Boven Digoel: Mati di gigit nyamuk hingga kencing hitam

Sunggal 1872