in

sunggal

Sunggal 1872

Saat menuntut ilmu di kota Bindjai, Aku berkenalan dengan beberapa pemuda Aceh. Aku juga menjalin persahabatan dengan anak seorang panglima perang Aceh Darusalam. Dia membawa ceritera tentang kedatangan dua kapal perang Netherland dengan bendera Triwarna yang berkibar-kibar dipantai pelabuhan Kutaraja. Tepatnya setahun yang lalu peristiwa itu terjadi. Dan seorang kurir dari istana datang ke Bindjai untuk menemuinya dan memberi sepucuk surat, isinya meminta kepulangannya ke Kutaraja.

Suatu waktu di kota Bindjai, kami pernah bertemu dan duduk disebuah warung teh milik seorang Singkeh. Singkeh ini adalah Tionghoa yang sudah beragama Islam. Kami berdua terlibat percakapan serius, setelah sebelumnya hanya saling berbasa-basi sebagai seorang kenalan yang sudah hampir setahun tak bertemu. Aku amat menyimak pembicaraannya. Dia sangat bersemangat.

Ceriteranya menjadi menarik karena gaya berbicara yang cepat dan berkobar. Dia persis seperti tukang pidato. Kalau saja ia berbadan tinggi tegap, pastilah ia menjadi pewaris jabatan Ayahandanya. Begitulah dia melukiskan betapa gagahnya ayahandanya. Sayang sekali tubuhnya pendek, dan tulangnya kecil, hingga selalu tampak kurus.

 

Di Tanah Deli ini, baru aku lihat wajah-wajah orang Belanda itu dengan langsung. Sebelumnya tak pernah aku melihatnya, hanya baru dengar dari cerita-cerita teman yang datang dari Langkat ke Kabanjahe. Dan di kota Bindjai ini, aku tak hanya bertemu dengan orang Belanda, tapi juga menjadi muridnya sekaligus, lewat seorang guru ilmu hitung disekolah ini, seorang indo, datang dari Jawa.

Aku kembali menyimak ceriteranya. Dan Tuan muda dari Aceh menerangkan:

”Tuan seorang Karo, tak mudah untuk tuan mengikuti ceriteraku ini, karena memang tidak ada persinggungan langsung dengan bangsa tuan. Bangsa tuan tidak pernah ditaklukan oleh Raja Siak, dan kami bangsa Aceh tidak pula pernah menundukkan bangsa tuan. Sedangkan bangsa tuan hidup merdeka sejak dulu kala.”

”Tapi tuan boleh ingat, Siak dan wilayah kekuasaannya adalah wilayah yang sudah dipersatukan oleh kesultanan Aceh, dan Belanda sudah berani bertindak terlalu jauh, tuan. Dia hendak menguji nyali dengan kami.”

”Saya pernah mendengar ceritera tentang Raja Siak dari Datuk Sunggal. Darinya saya ketahui bahwa Asahan dan juga Deli sama-sama tidak menyenangi Siak.”

Tuan Muda Daud, pemuda Aceh itu menyambar percakapan yang belum tuntas.

”Tepat sekali tuan, dan seperti bangsa kami yang juga tidak menyenanginya. Sudah sejak Sultan Iskandar Muda, Siak sudah kami taklukan. Dan kami menghormati Sultan Deli juga Sultan Asahan. Raja kami, hanya ingin adanya persatuan diantara kita, bangsa-bangsa Sumatera. Dari Ayahanda, aku mendapat cerita tentang tuan Gocah. Jika tuan menjalin kekerabatan dengan Datuk Sunggal, tentunya tuan mengetahui juga cerita tentang tuan Gocah.”

”Tuan Gocah?” tanyaku secepat kilat.

”Benar sekali tuan Bangun. Tuan Datuk Sunggal mungkin berpendapat bahwa tuan Gocah diutus Sultan Aceh untuk menaklukan tanah Deli, meskipun faktanya Datuk Sunggal mempunyai silsilah keturunan dengannya. Sama sekali tidak benar pendapat itu tuan. Memang pendapat tersebut menjadi pendapat umum rakyat Deli. Tuan Gocah jugalah yang melahirkan keturunan para pembesar Sunggal dari seorang gadis anak pembesar kerajaan Aru. Tuan sendiri seorang Karo dengan merga Bangun, tentu masih kerabat dekat dengan Sultan Aru. Maaf jika dugaanku keliru.” katanya.

”Sama sekali tidak tuan. Merga Bangun tentu memiliki leluhur yang sama. Barang tentu kami sama-sama punya tali temali dengan leluhur merga bangun. Tapi maaf sekali tuan, tentang Sultan Aru itu, saya tidak pernah mendapatkan ceritera hubungan kekerabatan dengan kami. Sedang saya sendiri adalah anak seorang Guru adat di Tanah Karo Gugung, dan antara Karo Gugung dan Karo Jahe-jahe sudah lama sekali terpisah, tuan. Perkara tuan Gocah, mungkin lain waktu akan saya pertanyakan secara khusus dengan tuan Datuk Sunggal perihal riwayat hidupnya di tanah Deli.”

 

Keesokan hari, Aku berkunjung ke istana Datuk Sunggal. Oleh pengawal istana, saya dibolehkan masuk dan dipersilahkan duduk di kursi tamu. Datuk Sunggal menemui saya dengan dua pengawal yang mengiringinya. Ada raut tak senang yang terpancar dari wajahnya. Awalnya saya merasa tak enak hati. Merasa kedatangan diri ini tidak tepat pada waktunya, dan tidak sesuai dengan suasana kesenangan hatinya. Tidak lama kemudian, saya bermohon diri. Ternyata dia mencegahnya.

 

Dia berkata dalam Karo

”Mengapa kamu begitu terburu-buru nak? Tidak senangkah kamu berlama-lama di eistana aku ini?”

”Maaf, Bapa Datuk. Bukan maksud saya tidak menghargai niat baik Bapa. Saya hanya tidak ingin mengganggu istirahat Bapa, mungkin Bapa sedang lelah atau sakit. Terlihat oleh saya wajah Bapa yang lesuh. Maafkan saya Bapa. Tadinya saya ingin menemui Bapa untuk mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya telah membantu saya selama bersekolah disini. Saya hendak memohon pamit untuk kepulangan saya ke Batu Karang.” Aku urungkan niat mempertanyakan prihal kekerabatan yang disinggung tuan Muda Daud. Barangkali Ayahku yang memahami soal adat dan riwayat kami dapat membantu menjelaskannya padaku tanpa merepotkan Datuk Sunggal.

”Hah.. Duduklah pada kursi kamu tadi, nak. Kapan kiranya kamu kembali ke tanah Gugung, nak?” tanya Datuk.

”Mungkin beberapa hari lagi, Bapa. Apa sebabnya Bapa menanyakan itu?”

”Seandainya aku bisa ikut denganmu nak, aku pasti memilih kembali ke tanah leluhurku yang merdeka. Memang ada yang sedang mengganggu pikiranku, nak. Aku tidak menyukai Mr. Nienhuys dan juga tidak menyukai Sultan Deli yang telah menyewakan lahannya kepada si Belanda, Mr. Nienhuys itu.”

”Aku tak suka mereka merampas kesuburan tanah ini untuk kemakmurannya sendiri. Sekarang ini nak, Sultan juga meminta tanah Sunggal untuk diberikan kepada saudagar Belanda. Mr. Nienhuys telah mengundang tuan tuan Belanda lainnya untuk datang mengikuti jejaknya, mereka menginginkan juga tanah ini.” Aku lihat dia terdiam sejenak, lalu menarik nafas panjang dan bola matanya terlempar kearah dinding seperti mengingat sesuatu. Lalu dia lanjutkan pembicaraannya.

”Tak sudi dan tak ekhlas aku untuk berbagi barang sedikitpun dengan mereka. Rakyat Sunggal hidup merdeka dibawah Kesultananku. Dari seorang mata–mata aku mendengar bahwa Sultan Mahmud hendak menyerahkan tanah ini kepada perkebunan De Rotterdam dan Deli Maschapij. Dia sudah melangkahi kewenanganku, dan tidak memandangku sebagai penguasa di tanah Sunggal ini, nak.”

Tampaklah dihadapanku sebuah wajah merah menahan amarah dengan mata berkaca dan amarah yang hendak lepas. Aku semakin ragu menanggapinya. Aku takut ucapanku malah akan membuatnya semakin tidak enak hati. Wajah amarah itu melanjutkan pembicaraannya.

”Jika kami sampai berperang, kabarkanlah kepada kerabat–kerabat diseluruh Tanah Gugung, bahwa aku, marga Surbakti, Sultan dari Sunggal, akan memilih mempertahankan tanah ini dan akan menghabisi siapa saja yang berkehendak menguasainya.”

Dari sorotan matanya, saya tahu persis bahwa api amarah telah membakarnya. Suara paraunya, dan tetesan air matanya yang tak terbendung akibat amarah yang sudah naik setinggi ubun-ubun kepalanya. Aku belum mengerti bagaimana sikap yang baik untuk menjawab pernyataannya barusan tadi.

”Jika kamu berkenan hati, menginaplah barang sehari disini, karena besok aku sendiri akan memimpin sebuah pertemuan besar disini, dengan semua rakyat Sunggal. Langkah kotor Mahmud harus dilawan. Aku tak akan membiarkan seorang Mahmud bisa hidup lagi ditanah ini, dan akan aku kasih mati kepada siapapun yang hendak mengabdi kepada Belanda.”

”Baiklah Pa, saya akan pikirkan untuk ikut dalam rencana yang sudah Bapa persiapkan.” jawabku menenangkannya.

”Jangan pernah lupa nak, dari Minang, Belanda sampai juga ke Tanah Tapanuli, hingga tanah Deli. Kelak mereka juga akan sampai ke tanah Karo. Jika itu terjadi, jangan pernah lupakan perkataanku ini, Belanda dimanapun akan merampas tanah kelahiranmu.” ucapnya sengan suara gemetar.

Tuan Datuk Sunggal memohon diri sejenak untuk masuk kedalam biliknya. Aku masih tetap duduk di kursi semula. Pandanganku tertuju pada para pengawal istana. Mereka sudah mengenal baju dan celana. Dan para perempuan disini sudah menutup bagian dadanya. Sedang ditanah kelahiranku masih terbelakang. Kaum perempuan masih bertelanjang dada dan memakai hiasan anting besar dan berat di telinga kirinya. Jika malam hari yang dingin oleh angin pegunungan, hanya ada kain saja yang dibalut menyelimuti badan mereka. Para lelaki juga demikian, dan dengan penutup kepala dari kain.

Disini sudah mengenal agama. Datuk beragama Islam, dan Belanda beragama Kristen. Pakaian orang-orang Kristen lebih rapi dan lebih enak dipandang mata. Begitulah pakaian para pembesar perkebunan tembakau De Rotterdam. Juga pakaian kaum Misi Zending Protestan dari Minahasa, yang juga berpakaian serba putih.

Seorang ibu tua mendekatiku dengan menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangan kearah lantai kayu. Kami tidak saling bertatapan. Dia berkata dalam bahasa Karo :

”Hari sudah malam, nak. Barangkali kau lelah setelah berlama-lama berbicara dengan tuan Datuk. Masuklah kedalam bilik yang sudah kami persiapkan, dan istirahatlah.”

Saya berdiri dan dia membalikan badan, lalu berjalan menuntunku ke arah pintu bilik yang sudah dipersiapkan. Aku masuk kedalamnya dan berbaring, dan berdiri kembali untuk menghampiri lampu sumbu, dan mengecilkan apinya untuk mendapatkan cahaya remang. Lalu kembali berbaring, masih terpikir olehku tentang ajakannya berperang melawan Belanda.

Ahh, jika saja Belanda sampai ke Tanah Karo, pasti dengan mudah aku jawab ajakannya. Belanda masih belum menginjakkan kakinya ke tempat kelahiranku, tapi mereka sudah sampai disini. Sepertinya tak lama lagi mereka ingin pula menguasai tanah kami.

Cahaya lampu sumbu semakin mengecil, mungkin minyaknya hampir habis. Ngantuk menyerang, mata mulai sayup terpejam.

Ayam berkokok tanda surya akan terbit. Aku terjaga dan dingin pagi membawaku keluar istana untuk menghirup udaranya. Padang rumput hijau yang luas terbentang bak permadani hidup yang siap menghantarkan ke surga. Sebentar lagi, jika pasukan Datuk kalah, apakah masih ada tempat seindah ini?

Aku sendiri mengkhawatirkannya. Sanggupkah bala tentara dan rakyat sederhana ini dengan senjata seadanya melawan tentara Belanda yang lengkap dengan senjata mesin ditangannya? Cukupkah semangat dan ikrar untuk bertahan sampai tetes darah penghabisan untuk mempertahankan tanah ini?

Pikiran cemas ini tak juga mau pergi. Haruskah aku mengusirnya sejenak dengan mandi? Akh, akan aku coba. Aku bergegas menuju bilik air di sebelah selatan tempat pengawal istana membasuh dirinya saban hari.

Setelah ini, hendaknya aku harus kembali menemui seorang teman, dialah putra pembesar Aceh itu. Banyak hal yang harus aku ceritakan kepadanya tentang percakapanku tadi malam dengan Datuk Sunggal.

Siang hari aku tiba di kota Bindjai. Tak susah menemuinya. Disebuah warung kopi di perempatan jalan kota, dia pasti ada disana. Barangkali sedang menikmati segelas kopi dan nasi urap.

”Kau sudah disini tuan Bangun?”

”Seperti yang tuan lihat. Ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan.” terangku.

”Duduklah, pesanlah kopi.”

”Baiklah.”

Aku buka percakapan dengan menceriterakan perihal perang Raja Bakara yang di ceriterakan rombongan pelarian dari tanah Tapanuli yang tiba di kampung Saribu Dolok. Raja itu tewas dalam pertempuran terakhirnya di Tanah Phakpak. Tapanuli jatuh ketangan Belanda. Berdirilah pemerintahan Belanda disana, Karesidenan Tapanuli.

”Tadi malam, aku diajak bicara oleh Tuan Datuk Sunggal. Dia kecewa atas keputusan Sultan Deli yang hendak menyerahkan tanah Sunggal kepada Belanda untuk perluasan perkebunan Deli. Dia merencanakan perlawanan. Dia juga berpesan kepadaku agar aku turut serta didalam perlawanannya dengan mengajak orang Karo gunung. Itulah yang membuatku bingung. Karo gunung masih belum mengenal Belanda. Mereka masih hidup sederhana.”

”Memang aku masih mempertimbangkan kemungkinan Belanda memperluas perkebunannya sampai ke tanah Karo. Tapi untuk apa? Hutan belantara dengan daratan berbukit dan tak rata itu, belum lagi tidak ada jalan transportasi modern seperti di tanah Deli ini, perlu apa mereka kesana? Tapi pantaskah sesama Karo aku tak memberikan pertolongan kepadanya?”

Kami berbicara dalam Melayu, dan aku sudah fasih berbahasa itu, dari sebab menuntut ilmu di kota ini. Perang Aceh masih berlangsung. Dan sahabatku ini adalah pemuda yang bersemangat sekali. Mungkin dia dikirim ke kota ini tidak hanya untuk belajar. Mungkin saja untuk menjalin kerjasama antar kerajaan. Dia adalah putra pembesar Aceh, dia pasti diterima dengan baik dikalangan kesultanan Deli. Paling tidak, mereka sama-sama Islam.

”Aku ingin sekali tuan membujuk Sultan Deli untuk mengurungkan niatnya. Paling tidak tuan, kita sama-sama berkulit coklat dan berambut hitam. Tak perlu kita menumpahkan darah sesama kita, tuan.” pintaku kepadanya.

”Tak mudah untuk dapat bertatap wajah dengannya, apalagi bisa mencegah keinginannya. Rasanya, aku tak akan punya kesempatan itu. Maaf tuan Bangun, aku tidak bisa berjanji memenuhi permintaan tuan.”

”Terimakasih tuan, tidak mengapa. Mungkin ini takdir kita, takdir bangsa kulit coklat, harus menerima adu domba dan harus saling menghancurkan demi tetap bertahan hidup dari ancaman.” Aku tutup pembicaraan dengannya, barangkali sudah tidak ada gunanya lagi dilanjutkan.

Sebulan telah berlalu. Aku sendiri sudah menyelesaikan sekolah di kota ini. Aku mempersiapkan diri bergegas pulang ke tanah kelahiranku. Tanah Karo Simalem.

Aku lupa menghitung hari, entah sudah berapa lama aku di tanah Karo ini. Aku masih saja teringat Sunggal, tapi belum juga mendapat kabar darinya. Aku masih berharap pertumpahan darah tidak terjadi meskipun aku tahu itu mustahil. Akhirnya seorang pekerja perkebunan Deli pulang kesini, menjumpai istrinya di Kandibata. Aku menemuinya. Perang sudah pecah di Tanah Sunggal.

”Dengan apa mereka berperang?” tanyaku kepada pekerja itu.

”Dengan apa saja.” jawabnya pendek.

”Apakah mereka menang?” tanyaku lagi.

”Masih perang, masih belum ada pemenangnya.” jawabnya.

 

Aku tertunduk, pikiranku mencemaskan Datuk Sunggal. Hampir saja aku lupa pada kalimat terakhirnya pada kunjunganku ke istananya. Astaga, tanah Karo, tanah kelahiranku ini, kapankah mereka tiba disini untuk merebutnya? Kali ini aku benar-benar disita kecemasan.

Aku kembali berkutat pada pertanyaan di kepalaku bulan lalu, apa pentingnya Belanda masuk ke tanah yang isinya hutan belantara dengan jurang-jurang dan bukit terjal ini?

Aku teringat pada jalan sempit yang dibuka orang karo untuk pergi ke tanah Deli dalam urusan perdagangan. Tanah ini penghasil buah dan sayuran, dan kami menjualnya ke tanah Deli. Belanda berkuasa di tanah Deli. Bukan tidak mungkin Belanda cepat atau lambat akan mengetahui tanah kami dari para pedagang yang memamerkan hasil alamnya di pasar? Bukankah ini akan menjadi alasan Belanda untuk merampas tanah kami yang subur?

Aku kembali mengingat janjiku. Janji untuk menimbang keikutsertaan kami dalam perang melawan Belanda. “Jangan lupakan, nak…” Ya, Datuk, kalimat itu benar-benar berhasil memenuhi kepalaku.

Aku seorang terpelajar. Baik buruknya Belanda sudah masuk dalam penilaianku. Sejauh ini aku menilainya buruk. Tak ada pilihan selain berjaga. Kalau ini yang harus ditempuh, akan aku tempuh dengan lapang dada. Esok, tibalah pada perjalanan yang menentukan. Aku harus mengelilingi tanah ini untuk menjelaskan apa yang aku lihat dan apa yang terjadi pada tanah Sunggal. Tanah ini harus menjadi kuburan bagi Belanda.

Aku, Kiras Bangun, bersumpah atas diriku sendiri, akan berperang melawan Belanda dan akan mengangkat sumpah pada setiap orang Karo agar mempertahankan tanah ini, dan kutukan akan jatuh kepada mereka yang berhianat pada tanah kelahirannya.

Cerpen ini merupakan bagian dari buku antologi cerpen nasional “Yang Terlupakan” terbitan InMedia Publishing. *Randy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesultanan Kuntu Darussalam

PHW, dulu dilirik pun tidak