in

Sejarah Kamera dan Ahli Matematika Dunia

Al-Haitsam (965 – 1039) dikenal di Barat sebagai al-Hazen atau Avennathan, tokoh optik terkemuka dunia dan pakar fisika. Tetapi ia juga seorang ahli astronomi, matematikawan, dan seorang dokter. Ketekunan dan kejeniusannya dalam menelaah gejala-gejala alam mengantarkannya menjadi seorang cendekiawan hebat, tidak saja dalam masyarakat muslim pada jamannya bahkan juga di dunia barat.

Ia yang bernama lengkap Abu Ali al-Hasan ibnu al-Hasan ibnu al-Haitsam dilahirkan di Basrah (Irak) dan pernah bekerja pada khalifah. Namun akhirnya ia minggat karena diberi tugas membuat mesin yang menurutnya tidak mungkin dan sia-sia. Pada akhir hayatnya, ia ke Kairo (Mesir) sebagai matematikawan.

Karyanya yang terbesar dan mungkin yang paling ilmiah dalam abad pertengahan adalah “Kitab al-Manazhir”, yang menjadi terkenal lewat terjemahan Latin, “Opticae Thesaurus” oleh Frederick Risner di Bastle tahun 1572 M. Selain itu dalam fisika, juga ada “Dzawahiral-Fasaq” (gejala-gejala senjakala) yang aslinya dibakar oleh Kardinal Ximenez Cisneros di Spanyol. Tulisan-tulisannya berpengaruh pada ilmuwan Barat dan melukiskan ia seorang eksperimentalis ilmiah. Bahkan George Sarton dan Donald menyebutnya sebagai ”The Greatest Student of Optics of All Times” (Ilmuwan di bidang optika terbesar sepanjang masa). Al-Haitsam antara lain menjelaskan tentang refraksi atmosfer serta tabel-tabel tentang sudut datang dan pembiasan cahaya yang mendekatkan ia pada hukum pembiasan (hukum rasio sinus)- yang menjadi jasa Snellius, gerak cahaya di atas cermin parabol dan sferis serta banyak lagi bahasan, yang semua itu dinyatakan dengan penguasaan matematika yang baik.

Dalam matematika, tokoh ini memang tidak memberikan karya-karya tersendiri. Kebanyakan karya-karyanya berhubungan dengan astronomi dan fisika, walaupun ada beberapa subyek matematika yang digeluti termasuk geometri Euclides.

Al-Haitsam memberikan dan memecahkan soal yang terkenal sebagai “soal al-Hazen”, – yang mengharumkan namanya- yaitu soal menarik garis-garis dari 2 titik di bidang suatu lingkaran (sferis) yang berpotongan pada titik di lingkaran itu dan membuat sudut yang sama dengan lingkaran di titik itu. Soal ini disadur dari soal fisika menemukan titik pada cermin sferis di mana sinar yang datang dari sumber cahaya akan dipantulkan ke mata pengamat. Perlu dicatat pula bahwa al-Haitsam juga yang mengemukakan teori bahwa mata menangkap/menerima cahaya dari benda sehingga benda itu terlihat mata. Ibnu Sina dan al-Biruni juga menyatakan hal yang sama. Ini meruntuhkan Teori Ptolemaios yang menganggap mata mengeluarkan sinar untuk melihat benda.

Karya-karyanya dalam bidang matematika antara lain: “Makalah Istikhraj Simt al- Qiblah” (menentukan letak sudut kiblat), “Makalah Firma Tad`u Ilaihi Hajatu`l-Umar Asy-Syar`iyyah min al-`Umar al-Handasiyyah” (Hal-hal yang diperlukan dari geometri untuk masalah agama), “Makalah Fi Istikhrajma Baina al-Baladain Fi al-Bu`d bi Jihat al- Handasiyyah” (penentuan dimensi antara 2 negeri dengan arah geometri), juga buku “Thabiq Fih hi Baina al-Abniyya Wa al-Hujr bi Jami` al-Asykal al-Handasiyyah” (kecocokan antara bangunan dan galian dengan semua bentuk geometri).

Pada buku yang disebut pertama di atas, ia menyusun teorema tangens untuk menentukan arah kiblat, yaitu :

cot g α = sin φ1.cos (λ1 − λ2 ) − cos φ1.tg φ2 sin (λ1 −λ2)

Dan dalam buku yang judulnya sangat panjang, “Fi anna al-Qurra … Mutasamiya”, ia membahas tentang poligon (segi banyak dengan sisi beraturan)

Masih di dalam matematika, ia mampu memecahkan secara cermat soal al-Mahani. Dalam “Kitab al-Manazhir”, lewat pembahasan yang amat pelik, ia sampai pada persamaan pangkat 4 yang dipecahkannya lewat interaksi hiperbola dan lingkaran. Ini melahirkan teori kerucut. Leonardo da Vinci (Fibonacci) mencobanya, tetapi hanya mampu secara mekanik. Akhirnya, C. Huygens yang memberi penyelesaian yang amat sederhana dan akurat.

Disebutkan pula bahwa al-Haitsam memperluas kerja Archimedes dengan menemukan volume yang dihasilkan dengan memutar garis singgung pada titik-titik luasan yang dibatasi oleh kurva parabola, sumbu-sumbu koordinat dan sebuah ordinat dari parabola.

Al-Haitsam juga membuktikan postulat kesejajaran Euclides dengan menggunakan sebuah segiempat dengan 3 sudut siku-siku (belakangan dipakai Lambert pada abad ke- 18 dan akhirnya dikenal dengan “segiempat Lambert”), dan ia berhasil membuktikan bahwa sudut yang ke-4 mestilah siku-siku. Dengan “teorema” tersebut, ia membuktikan postulat kesejajaran Euclides. Satu hal yang belakangan dikritik oleh Umar Khayyam adalah digunakannya istilah “gerak” oleh al-Haitsam dalam bukti tersebut, yang dalam matematika moden memang bukan istilah matematika, tetapi istilah fisika.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejarah kata JANCOK