• in

    Sejarah Kamera dan Ahli Matematika Dunia

    0

    Al-Haitsam (965 – 1039) dikenal di Barat sebagai al-Hazen atau Avennathan, tokoh optik terkemuka dunia dan pakar fisika. Tetapi ia juga seorang ahli astronomi, matematikawan, dan seorang dokter. Ketekunan dan kejeniusannya dalam menelaah gejala-gejala alam mengantarkannya menjadi seorang cendekiawan hebat, tidak saja dalam masyarakat muslim pada jamannya bahkan juga di dunia barat.

    Ia yang bernama lengkap Abu Ali al-Hasan ibnu al-Hasan ibnu al-Haitsam dilahirkan di Basrah (Irak) dan pernah bekerja pada khalifah. Namun akhirnya ia minggat karena diberi tugas membuat mesin yang menurutnya tidak mungkin dan sia-sia. Pada akhir hayatnya, ia ke Kairo (Mesir) sebagai matematikawan.

    Karyanya yang terbesar dan mungkin yang paling ilmiah dalam abad pertengahan adalah “Kitab al-Manazhir”, yang menjadi terkenal lewat terjemahan Latin, “Opticae Thesaurus” oleh Frederick Risner di Bastle tahun 1572 M. Selain itu dalam fisika, juga ada “Dzawahiral-Fasaq” (gejala-gejala senjakala) yang aslinya dibakar oleh Kardinal Ximenez Cisneros di Spanyol. Tulisan-tulisannya berpengaruh pada ilmuwan Barat dan melukiskan ia seorang eksperimentalis ilmiah. Bahkan George Sarton dan Donald menyebutnya sebagai ”The Greatest Student of Optics of All Times” (Ilmuwan di bidang optika terbesar sepanjang masa). Al-Haitsam antara lain menjelaskan tentang refraksi atmosfer serta tabel-tabel tentang sudut datang dan pembiasan cahaya yang mendekatkan ia pada hukum pembiasan (hukum rasio sinus)- yang menjadi jasa Snellius, gerak cahaya di atas cermin parabol dan sferis serta banyak lagi bahasan, yang semua itu dinyatakan dengan penguasaan matematika yang baik.

    Dalam matematika, tokoh ini memang tidak memberikan karya-karya tersendiri. Kebanyakan karya-karyanya berhubungan dengan astronomi dan fisika, walaupun ada beberapa subyek matematika yang digeluti termasuk geometri Euclides.

    Al-Haitsam memberikan dan memecahkan soal yang terkenal sebagai “soal al-Hazen”, – yang mengharumkan namanya- yaitu soal menarik garis-garis dari 2 titik di bidang suatu lingkaran (sferis) yang berpotongan pada titik di lingkaran itu dan membuat sudut yang sama dengan lingkaran di titik itu. Soal ini disadur dari soal fisika menemukan titik pada cermin sferis di mana sinar yang datang dari sumber cahaya akan dipantulkan ke mata pengamat. Perlu dicatat pula bahwa al-Haitsam juga yang mengemukakan teori bahwa mata menangkap/menerima cahaya dari benda sehingga benda itu terlihat mata. Ibnu Sina dan al-Biruni juga menyatakan hal yang sama. Ini meruntuhkan Teori Ptolemaios yang menganggap mata mengeluarkan sinar untuk melihat benda.

    Karya-karyanya dalam bidang matematika antara lain: “Makalah Istikhraj Simt al- Qiblah” (menentukan letak sudut kiblat), “Makalah Firma Tad`u Ilaihi Hajatu`l-Umar Asy-Syar`iyyah min al-`Umar al-Handasiyyah” (Hal-hal yang diperlukan dari geometri untuk masalah agama), “Makalah Fi Istikhrajma Baina al-Baladain Fi al-Bu`d bi Jihat al- Handasiyyah” (penentuan dimensi antara 2 negeri dengan arah geometri), juga buku “Thabiq Fih hi Baina al-Abniyya Wa al-Hujr bi Jami` al-Asykal al-Handasiyyah” (kecocokan antara bangunan dan galian dengan semua bentuk geometri).

    Pada buku yang disebut pertama di atas, ia menyusun teorema tangens untuk menentukan arah kiblat, yaitu :

    cot g α = sin φ1.cos (λ1 − λ2 ) − cos φ1.tg φ2 sin (λ1 −λ2)

    Dan dalam buku yang judulnya sangat panjang, “Fi anna al-Qurra … Mutasamiya”, ia membahas tentang poligon (segi banyak dengan sisi beraturan)

    Masih di dalam matematika, ia mampu memecahkan secara cermat soal al-Mahani. Dalam “Kitab al-Manazhir”, lewat pembahasan yang amat pelik, ia sampai pada persamaan pangkat 4 yang dipecahkannya lewat interaksi hiperbola dan lingkaran. Ini melahirkan teori kerucut. Leonardo da Vinci (Fibonacci) mencobanya, tetapi hanya mampu secara mekanik. Akhirnya, C. Huygens yang memberi penyelesaian yang amat sederhana dan akurat.

    Disebutkan pula bahwa al-Haitsam memperluas kerja Archimedes dengan menemukan volume yang dihasilkan dengan memutar garis singgung pada titik-titik luasan yang dibatasi oleh kurva parabola, sumbu-sumbu koordinat dan sebuah ordinat dari parabola.

    Al-Haitsam juga membuktikan postulat kesejajaran Euclides dengan menggunakan sebuah segiempat dengan 3 sudut siku-siku (belakangan dipakai Lambert pada abad ke- 18 dan akhirnya dikenal dengan “segiempat Lambert”), dan ia berhasil membuktikan bahwa sudut yang ke-4 mestilah siku-siku. Dengan “teorema” tersebut, ia membuktikan postulat kesejajaran Euclides. Satu hal yang belakangan dikritik oleh Umar Khayyam adalah digunakannya istilah “gerak” oleh al-Haitsam dalam bukti tersebut, yang dalam matematika moden memang bukan istilah matematika, tetapi istilah fisika.

  • in

    Popular umpatan

    Sejarah kata JANCOK

    Jancok, Dancok , atau disingkat menjadi Cok (juga ditulis Jancuk atau Cuk, Ancok atau Ancuk, dan Coeg) adalah sebuah kata yang menjadi ciri khas komunitas masyarakat di Jawa Timur, terutama Surabaya dan sekitarnya. Selain itu, kata ini juga digunakan oleh masyarakat Malang dan Lamongan. Meskipun memiliki konotasi buruk, kata jancok menjadi kebanggaan serta dijadikan simbol identitas bagi komunitas penggunanya, bahkan digunakan sebagai kata serapan untuk memanggil di antara teman, untuk meningkatkan rasa kebersamaan.
    Normalnya, kata tersebut digunakan sebagai umpatan pada saat emosi meledak, marah, atau untuk membenci dan mengumpat seseorang. Kata Jancokjuga menjadi simbol keakraban dan persahabatan khas di kalangan sebagianarek-arek Suroboyo.
    Menurut Kamus Daring Universitas Gajah Mada, istilah “jancuk, jancok, diancuk, diancok, cuk, atau cok” memiliki makna“ sialan, keparat, brengsek (ungkapan berupa perkataan umpatan untuk mengekspresikan kekecewaan atau bisa juga digunakan untuk mengungkapkan ekspresi keheranan atas suatu hal yang luar biasa)”.
    Kata ini memiliki sejarah yang masih rancu. Kemunculannya banyak ditafsirkan karena adanya pelesetan oleh orang-orang terdahulu yang salah tangkap dalam pemaknaan, dan versi-versi ini muncul dari beberapa negara tetangga yang orang-orangnya mengucapkan kata yang memiliki intonasi berbeda namun dengan bunyi hampir sama. Hal ini karena orang-orang dari beberapa negara tetangga tersebut mengucapkan kata yang hampir mirip katajancokdengan ekspresi marah, geram, atau sejenisnya. Orang Jawa dahulu mengartikan kata jancok (menurut lidah orang Jawa) adalah kata makian.
    Setidaknya terdapat lima versi asal-mula kataJancok.
    Versi kedatangan Arab
    Salah satu versi asal-mula kata “Jancuk” berasal dari kata Da’Suk. Da’artinya “meninggalkanlah kamu”, danassyu’ aartinya “kejelekan”, digabung menjadi Da’Suk yang artinya “tinggalkanlah keburukan”. Kata tersebut diucapkan dalam logat Surabaya menjadi “Jancok”.
    Versi penjajahan Belanda
    Menurut Edi Samson, seorang anggota Cagar Budaya di Surabaya, istilah Jancok atau Dancok berasal dari Bahasa Belanda “yantye ook” yang memiliki arti “kamu juga”. Istilah tersebut popular di kalangan Indo-Belanda sekitar tahun 1930-an. Istilah tersebut diplesetkan oleh para remaja Surabaya untuk mencemooh warga Belanda atau keturunan Belanda dan mengejanya menjadi “yanty ok” dan terdengar seperti “yantcook”. Sekarang, kata tersebut berubah menjadi “Jancok” atau “Dancok”.
    Versi penjajahan Jepang
    Kata “Jancok” berasal dari kataSudancoberasal dari zaman Romushayang artinya “Ayo Cepat”. Karena kekesalan pemuda Surabaya pada saat itu, kata perintah tersebut diplesetkan menjadi “Dancok”.
    Versi umpatan
    Warga Kampung Palemahan di Surabaya memiliki sejarah oral bahwa kata “Jancok” merupakan Akronimdari “Marijan ngencuk” (“Marijan berhubungan badan”). Kata encuk merupakan Bahasa Jawa yang memiliki arti “berhubungan badan”, terutama yang dilakukan di luar nikah. Versi lain menyebutkan bahwa kata “Jancuk” berasal dari kata kerja “diencuk”. Kata tersebut akhirnya berubah menjadi “Dancuk” dan terakhir berubah menjadi “Jancuk” atau “Jancok”.
    Versi Penelitian Jaseters
    Menurut badan penelitian Jaseters, Kata Jancok merupakan suatu ungkapan kekecewaan yang merupakan sebuah gabungan kosakata berbahasa jawa, Jan yang berarti “teramat sangat, benar-benar” dengan Cak yang berarti “kakak, senior”, yang berarti “kakak (kamu) sangat kelewatan”.
    Namun karena tidak ingin menyakiti hati senior tersebut, maka dirubahlah Cak menjadi Cok, sehingga tidak menyinggung orang tersebut dan terdengar familiar Jancok.
    Makna Kata “Jancok” merupakan kata yang tabudigunakan oleh masyarakat Pulau Jawa secara umum karena memiliki Konotasi negatif. Namun, penduduk Surabaya, Gresik dan Malang menggunakan kata tersebut sebagai identitas komunitas mereka sehingga kata “Jancok” memiliki perubahan makna ameliorasi (perubahan makna ke arah positif).
    Sujiwo Tejo mengatakan:
    “Jancuk” itu ibarat sebilah pisau. Fungsi pisau sangat tergantung dariuser-nya dan suasana psikologis siuser. Kalau digunakan oleh penjahat, bisa jadi senjata pembunuh. Kalau digunakan oleh seorang istri yang berbakti pada keluarganya, bisa jadi alat memasak. Kalau dipegang oleh orang yang sedang dipenuhi dendam, bisa jadi alat penghilang nyawa manusia. Kalau dipegang orang yang dipenuhi rasa cinta pada keluarganya bisa dipakai menjadi perkakas untuk menghasilkan penghilang lapar manusia. Begitupun “jancuk”, bila diucapkan dengan niat tak tulus, penuh amarah, dan penuh dendam maka akan dapat menyakiti. Tetapi bila diucapkan dengan kehendak untuk akrab, kehendak untuk hangat sekaligus cair dalam menggalang pergaulan, “jancuk” laksana pisau bagi orang yang sedang memasak. “Jancuk” dapat mengolah bahan-bahan menjadi jamuan pengantar perbincangan dan tawa-tiwi di meja makan.(Sujiwo Tedjo, 2012, halaman x)
    Jancuk merupakan simbol keakraban. Simbol kehangatan. Simbol kesantaian. Lebih-lebih di tengah khalayak ramai yang kian munafik, keakraban dan kehangatan serta santainya “jancuk” kian diperlukan untuk menggeledah sekaligus membongkar kemunafikan itu.(Sujiwo Tejo, 2012 : 397)
    Menurut Anas Arrasyid, kata “jancok” adalah suatu hadiah terburuk yang diberikan secara langsung kepada seseorang yang dibenci, tetapi juga digunakan sebagai kosakata pertemanan yang biasa. Akibatnya, kata “jancok” menjadi penjajahan akidah moral dalam bertutur kata. Hasil dari surveinya bahwa jancok merupakan kata umpatan yang sangat mencolok dan akan membuat seseorang sakit hati bila mendengarkannya di bandingkan umpatan lainnya seperti “Asu, Kerek, Bedhes, Jangkrik, Jaran, dan Bangsat”.
    Dalam konferensi pers konserMahacinta Rahwanadi JX Internasionalpada tanggal 18 November 2013, Sitok Srengenge menambah keterangan Sujiwo Tejoyang menegaskan bahwa konsep dan filosofijancukerstumbuh di Jawa Timur, khususnya Surabaya:
    “Di sinilah sebuah republik bernama Republik Jancukers itu tumbuh dan memunculkan definisi baru mengenai kata jancuk yang sudah tidak identik dengan konotasi negatif.”
    Kata seru Kata ‘Jancok”, atau “cok” dalam bentuk singkatnya, digunakan sebagai kata seruuntuk menunjukkan perasaan yang muncul, baik perasaan yang bersifat negatif maupun positif. Contoh kalimat:
    1. “Cok, gak usah cekel-cekel!” (“Cok, tidak usah pegang-pegang!”)
    2. “Wih, apik’e, Cok!” (“Wih, bagusnya, Cok!”)
    Kata sapaan
    Di antarapara pengguna, kata “Jancok” juga digunakan sebagai kata serapan untuk mengungkapkan kemarahan atau menunjukkan kedekatan hubungan di antara teman. Karena konotasi buruk yang melekat pada istilah “Jancok”, seseorang akan menjadi marah jika dipanggil menggunakan kata tersebut. Hal tersebut tidak berlaku di antara teman karib, yang malah menunjukkan bahwa kedekatan hubungan mereka membuat mereka tidak akan saling marah jika dipanggil dengan kata “Jancok”.
    Meskipun tergolong bahasa gaul anak muda, kata tersebut masih terasa tidak pantas untuk digunakan memanggil orang tua karena arti sebenarnya adalah perkataan kotor.
    Contoh kalimat:
    • “Cok, nang endi ae koén?” (“Cok, ke mana saja kamu?”)
    • “Ojo meneng aé, Cok!” (“Jangan diam saja,Cok!”)
    • “Mlaku-mlaku yok, Cok.” (“Jalan-jalan yuk,Cok.”)
    • “Piye kabarmu cok?” (“Bagaimana kabarmu cok?”)
    Budaya populer
    • Sujiwo Tedjo menulis dua buah buku berjudul Jiwo Jancuk dan Republik #Jancuker. Seniman tersebut juga sering menulis kata “Jancuk” di Twitter miliknya serta menyebut dirinya sebagai presiden jancuker.
    •Salah satu fanspage Facebook yang mengangkat istilah ini adalah JANCOK KATA KATA KOTA KITA atau biasa disingkat menjadi JK4.
    •Nasi Goreng Jancuk merupakan salah satu menu dari Surabaya Plaza Hotel, Surabaya, Jawa Timur. Nasi goreng tersebut merupakan kreasi Eko Sugeng Purwanto, Executive Chefdan Food & Beverage Manager Surabaya Plaza Hotel.
    • Dalam novel Angker Batu, seorang tokoh bernama Warno berasal dari Jawa Timur dan terbiasa mengumpat Jancuk. Kebiasaan tersebut ditiru oleh Yudha dan Kanaya yang merupakan warga Jakarta.
    • Arok, tokoh utama film punk love, berulang kali mengucapkan kata Cok.
    • Jancuk merupakan salah satu lagu yang berada dalam album kompilasi Sujiwo Tedjo yang berjudul 2012.
    • Bonek (sebutan untuk pendukung Persebaya Surabaya) dan Aremania (sebutan untuk pendukung Arema Cronous) saling mengumpat jancok (“Bonek jancok” atau “Arema jancok”) yang menunjukkan adanya persaingan di antara kedua klub sepak bola di Jawa timur tersebut.
    •Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya pernah membuat akronim CUK (Cerdas, Ulet dan Kreatif), tetapi banyak kalangan internal yang kurang setuju lantas diganti menjadi CAK (Cerdas, Amanah dan Kreatif). “Cak” sendiri merupakan kependekan dari katacacak(kakak) atau panggilan umum untuk pria.
  • in

    “Pembunuh” itu bernama GULA PUTIH (Gula Pasir)

    Berikut adalah hasil penelitian DR Nancy Appleton Ph.D, seorang peneliti di bidang Pelayanan kesehatan yang mengumpulkan hasil penelitiannya mengenai bahaya dari mengkonsumsi  gula pasir / putih dalam sebuah buku best seller “Lick the Sugar Habit”.

    Setidaknya dia mencatat ada 140 lebih bahaya dari mengkonsumsi gula pasir / putih. Berbahaya saat penyakit sudah terlihat dan terdiagnosa, jadi jangan menganggap bahwa masih aman atau toleran, karena effect belum di rasaran. Sebaiknya alihkan konsumsi manis dengan mengganti dengan yang lebih sehat misalnya Madu. Berikut adalah Bahaya Gula Putih bagi tubuh kita:

    1. Gula dapat menekan kekebalan tubuh.
    2. Gula mengganggu hubungan mineral dalam tubuh
    3. Gula dapat menyebabkan gangguan pola laku pada anak anak.
    4. Gula apabila di konsumsi selama masa hamil dan menyusui dapat mempengaruhi  kekuatan  otot  produksi  pada bayi keturunannya.
    5. Gula dalam soda, bila dikonsumsi oleh anak-anak akan menyebabkan kurangnya konsumsi susu pada anak anak
    6. Gula dapat meningkatkan respon glukosa dan insulin
    7. Gula dapat meningkatkan spesies oksigen reaktif (ROS), yang dapat merusak sel-sel dan jaringan.
    8. Gula dapat menyebabkan hiperaktif, kecemasan, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dan mudah tersinggung pada anak.
    9. Gula dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam trigliserida.
    10. Gula mengurangi kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap infeksi bakteri.
    11. Gula menyebabkan penurunan elastisitas jaringan dan fungsi pembuluh darah.
    12. Gula mengurangi high density lipoprotein (HDL).
    13. Gula dapat menyebabkan kekurangan krom.
    14. Gula dapat menyebabkan kanker ovarium.
    15. Gula dapat meningkatkan kadar glukosa puasa.
    16. Gula menyebabkan kekurangan tembaga.
    17. Gula mengganggu dengan penyerapan tubuh kalsium dan magnesium.
    18. Gula dapat membuat mata lebih rentan terhadap degenerasi makula terkait usia.
    19. Gula menaikkan tingkat neurotransmiter: dopamin, serotonin, dan norepinefrin.
    20. Gula dapat menyebabkan hipoglikemia.
    21. Gula dapat mengakibatkan saluran pencernaan asam.
    22. Gula dapat menyebabkan peningkatan cepat kadar adrenalin pada anak.
    23. Gula sering malabsorbed pada pasien dengan penyakit usus.
    24. Gula dapat menyebabkan penuaan dini.
    25. Gula dapat menyebabkan kecanduan alcohol
    26. Gula dapat menyebabkan kerusakan gigi.
    27. Gula dapat menyebabkan obesitas.
    28. Gula meningkatkan risiko penyakit Crohn dan kolitis ulserativa.
    29. Gula dapat menyebabkan ulkus lambung atau duodenum.
    30. Gula dapat menyebabkan radang sendi.
    31. Gula dapat menyebabkan gangguan belajar pada anak sekolah.
    32. Gula membantu pertumbuhan tidak terkendali Candida Albicans (infeksi jamur).
    33. Gula dapat menyebabkan batu empedu.
    34. Gula dapat menyebabkan penyakit jantung.
    35. Gula dapat menyebabkan radang usus buntu.
    36. Gula dapat menyebabkan wasir.
    37. Gula dapat menyebabkan varises.
    38. Gula dapat menyebabkan penyakit periodontal.
    39. Gula dapat menyebabkan osteoporosis.
    40. Gula memberikan kontribusi terhadap keasaman air liur.
    41. Gula dapat menyebabkan penurunan sensitivitas insulin.
    42. Gula dapat menurunkan jumlah Vitamin E dalam darah.
    43. Gula dapat mengurangi jumlah hormon pertumbuhan dalam tubuh.
    44. Gula dapat meningkatkan kolesterol.
    45. Gula meningkatkan produk lanjutan akhir glikasi (AGEs), yang terbentuk ketika gula mengikat non-enzimatis terhadap protein.
    46. Gula dapat mengganggu penyerapan protein.
    47. Gula menyebabkan alergi makanan.
    48. Gula dapat menyebabkan diabetes.
    49. Gula dapat menyebabkan toksemia selama kehamilan.
    50. Gula dapat menyebabkan eksim pada anak-anak.
    51. Gula dapat menyebabkan penyakit jantung.
    52. Gula dapat merusak struktur DNA.
    53. Gula dapat mengubah struktur protein.
    54. Gula dapat membuat kerut kulit dengan mengubah struktur kolagen.
    55. Gula dapat menyebabkan katarak.
    56. Gula dapat menyebabkan emphysema.
    57. Gula dapat menyebabkan atherosclerosis.
    58. Gula dapat mempromosikan ketinggian low-density lipoprotein (LDL).
    59. Gula dapat merusak homeostasis fisiologis dari banyak sistem dalam tubuh.
    60. Gula menurunkan kemampuan enzim untuk berfungsi.
    61. Asupan gula dikaitkan dengan perkembangan penyakit Parkinson.
    62. Gula dapat meningkatkan ukuran hati dengan membuat sel-sel hati membagi.
    63. Gula dapat meningkatkan jumlah lemak hati.
    64. Gula dapat meningkatkan ukuran ginjal dan menghasilkan perubahan patologis pada ginjal
    65. Gula dapat merusak pancreas
    66. Gula dapat meningkatkan retensi cairan tubuh.
    67. Gula adalah nomor satu musuh gerakan usus.
    68. Gula dapat menyebabkan miopia (rabun jauh).
    69. Gula dapat membahayakan lapisan kapiler.
    70. Gula dapat membuat tendon lebih rapuh.
    71. Gula dapat menyebabkan sakit kepala, termasuk migrain.
    72. Gula berperan dalam kanker pankreas pada wanita.
    73. Gula dapat mempengaruhi nilai anak-anak di sekolah.
    74. Gula dapat menyebabkan depresi.
    75. Gula meningkatkan resiko kanker lambung.
    76. Gula dapat menyebabkan dispepsia (gangguan pencernaan).
    77. Gula dapat meningkatkan resiko berkembangnya gout.
    78. Gula dapat meningkatkan kadar glukosa dalam darah jauh lebih tinggi dari karbohidrat kompleks dalam tes toleransi glukosa bisa.
    79. Gula mengurangi kapasitas belajar.
    80. Gula dapat menyebabkan protein darah dua – albumin dan lipoprotein – berfungsi kurang efektif, yang dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk menangani lemak dan kolesterol.
    81. Gula dapat berkontribusi pada penyakit Alzheimer.
    82. Gula dapat menyebabkan kelengketan platelet, yang menyebabkan bekuan darah.
    83. Gula dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon – beberapa hormon menjadi kurang aktif dan lain-lain menjadi terlalu aktif.
    84. Gula dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal.
    85. Gula dapat menyebabkan radikal bebas dan stres oksidatif.
    86. Gula dapat menyebabkan kanker saluran empedu.
    87. Gula meningkatkan risiko remaja hamil menyampaikan-kecil untuk-kehamilan-usia (SGA) bayi.
    88. Gula dapat menyebabkan penurunan besar dalam jarak kehamilan di kalangan remaja.
    89. Gula memperlambat waktu perjalanan makanan melalui saluran pencernaan.
    90. Gula meningkatkan konsentrasi asam empedu dalam tinja enzim dan bakteri dalam usus besar, yang dapat memodifikasi empedu untuk memproduksi senyawa penyebab kanker dan kanker usus besar.
    91. Gula meningkatkan estradiol (bentuk yang paling ampuh alami estrogen) pada pria.
    92. Gula menggabungkan dengan dan menghancurkan fosfatase, enzim pencernaan, yang membuat pencernaan lebih sulit.
    93. Gula dapat menjadi faktor risiko untuk kanker kandung empedu.
    94. Gula adalah zat adiktif.
    95. Gula bisa memabukkan, mirip dengan alkohol.
    96. Gula dapat memperburuk premenstrual syndrome (PMS).
    97. Gula dapat menurunkan kestabilan emosi.
    98. Gula mempromosikan asupan makanan yang berlebihan pada orang gemuk.
    99. Gula dapat memperburuk gejala anak dengan gangguan perhatian defisit (ADD).
    100. Gula dapat memperlambat kemampuan kelenjar adrenal berfungsi.
    101. Gula dapat menyebabkan katarak.
    102. Gula bisa memotong oksigen ke otak bila diberikan kepada orang-orang infus
    103. Gula merupakan faktor risiko untuk kanker paru-paru.
    104. Gula meningkatkan resiko polio.
    105. Gula dapat menyebabkan kejang epilepsy
    106. Gula dapat meningkatkan tekanan darah sistolik (tekanan saat jantung adalah kontraktor).
    107. Gula dapat menyebabkan kematian sel.
    108. Gula dapat meningkatkan jumlah makanan yang Anda makan.
    109. Gula dapat menyebabkan perilaku antisosial pada anak-anak nakal.
    110. Gula dapat menyebabkan kanker prostat
    111. Gula dehidrasi bayi yang baru lahir
    112. Gula dapat menyebabkan wanita melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.
    113. Gula adalah terkait dengan hasil buruk skizofrenia
    114. Gula dapat meningkatkan kadar homosistein dalam aliran darah
    115. Gula meningkatkan resiko kanker payudara
    116. Gula merupakan faktor risiko kanker usus kecil
    117. Gula dapat menyebabkan kanker laring.
    118. Gula menyebabkan retensi garam dan air.
    119. Gula dapat menyebabkan kehilangan memori ringan.
    120. Air gula, bila diberikan kepada anak-anak segera setelah lahir, menyebabkan anak-anak lebih memilih air gula ke air biasa sepanjang masa.
    121. Gula menyebabkan sembelit.
    122. Gula dapat menyebabkan kerusakan otak pada perempuan pra-diabetes dan diabetes.
    123. Gula dapat meningkatkan risiko kanker perut.
    124. Gula dapat menyebabkan sindrom metabolic.
    125. Gula meningkatkan cacat tabung saraf pada embrio bila dikonsumsi oleh wanita hamil.
    126. Gula dapat menyebabkan asma.
    127. Gula meningkatkan kemungkinan mendapatkan sindrom mangkuk mudah tersinggung.
    128. Gula dapat mempengaruhi sistem hadiah pusat.
    129. Gula dapat menyebabkan kanker rectum.
    130. Gula dapat menyebabkan kanker endometrium.
    131. Gula dapat menyebabkan ginjal (ginjal) sel kanker.
    132. Gula dapat menyebabkan tumor hati.
    133. Gula dapat meningkatkan penanda peradangan dalam aliran darah orang yang kelebihan berat badan
    134. Gula berperan dalam penyebab dan kelanjutan jerawat
    135. Gula dapat merusak kehidupan seks baik pria dan wanita dengan mematikan gen yang mengontrol hormon seks.
    136. Gula dapat menyebabkan kelelahan, kemurungan, kegelisahan, dan depresi.
    137. Gula dapat membuat banyak nutrisi penting kurang tersedia untuk sel.
    138. Gula dapat meningkatkan asam urat dalam darah.
    139. Gula dapat menyebabkan konsentrasi C-peptida yang lebih tinggi.
    140. Gula menyebabkan peradangan.
    141. Gula dapat menyebabkan diverticulitis, sebuah kantung menggembung kecil mendorong keluar dari dinding usus besar yang meradang.
    142. Gula dapat menurunkan produksi testosteron.
    143. Gula mengganggu memori spasial.
  • in

    Popular

    Komunitas Indo-Belanda

    Belanda yang cukup lama berada di Indonesia. Mengenai soal menjajah dan bisnis memang berbeda pandangan, apalagi generasi yang tidak lahir di jaman itu. 350 tahun, waktu yang sangat lama. Dan dari 350 tahun itu pula terbentuk komunitas dan kelompok yang berkaitan dengan Belanda. Belanda banyak etnis yang tinggal di negara mereka, karena memang ekspansi mereka cukup luas, termasuklah Indonesia. Berikut adalah Komunitas yang ada di negeri Belanda.

    Komunitas Indo

    Komunitas Indo atau blasteren ini merupakan kelompok tertua sejarah kehadiran mereka di Negeri Belanda, sudah beberapa generasi hadir dinegeri kincir angin. Melalui orang tua dan leluhurnya, mereka pindah ke Negeri Belanda. Indo atau blasteren ini dikenal sejak terjadinya perkimpoian antara sang tuan dan pengasuh rumah tangga mereka sejak masa kolonial, di Nederlands Indië pada jaman tempo doeloe.
    Tetapi komunitas ini mencapai puncaknya berpindah ke Belanda pada zaman pergantian kekuasaan di Indonesia, dari orde-lama ke orde-baru, pada akhir tahun 1965 – 1966, kemudian mereka berdiam negeri Belanda. Mereka ini menganggap diri selaku orang Belanda, walaupun orang Belanda sendiri menganggap mereka orang asing, demikian juga halnya orang di Indonesia beranggapan sama kepada mereka. Hingga terjadi istilah bangsa kehilangan tanah air dan orang-orang yang asing dinegri leluhurnya..

     

    Komunitas Ambon

    Komunitas Ambon merupakan Kelompok yang datang ke negeri Belanda melalui kebijaksanaan Pemerintah Belanda pada awal tahun limapuluhan. Pemerintah Belanda merasa bertanggung jawab atas keselamatan bekas serdadunya, yang bergabung dalam KNIL(Koninklijk Nederlands Indische Leger).Bekas tentara KNIL ini diangkut oleh pemerintah Belanda dari Indonesia setelah Tentara Republik mengoperalih kekuasaan dibawah presiden Sukarno.Hasil perkimpoian dgn berbagai ras di Nederland sampai generasi ke tiga sekarang mungkin jumlahnya sudah ratusan ribu jiwa. Mereka ini tersebar ke berbagai penjuru Nederland mulai dari Selatan Provinsi Maastricht sampai ke utara provinsi Groningen dan Frisland. kelompok Ambon asal KNIL ini membentuk kelompok yang terbesar dari empat kelompok etnis asal Indonesia.

    Komunitas Jawa Suriname

    Komunitas Jawa Suriname merupakan Kelompok yang dinilai berliku-liku jalan sejarah yang dilalui. Leluhur mereka berangkat dari pulau Jawa pada jaman kolonial menuju ke Suriname. Asal mula kelompok ini, adalah tenaga pekerja dari Jawa pada tahun 1890 dibawa ke Suriname, selaku tenaga kerja kontrakan yang akan dipekerjakan diperkebunan tebu.menurut mereka setelah masa kontrak habis, maka akan di kembalikan ke Jawa tetapi kenyataanya tidak terealisasi.sehingga menetap di Suriname dan membentuk satu kelompok dari penduduk negara Suriname.Setelah suriname merdeka mereka membentuk satu komunitas Jawa-Suriname, kemudian dengan suka rela, selaku bangsa merdeka datang ke negeri Belanda. Jawa Suriname ini tetap merasa orang Jawa, tetapi tidak merasa orang Indonesia.
    Komunitas orang-orang Indonesia merdeka
    Komunitas orang indonesia merdeka yaitu kelompok dari bangsa Indonesia yang setelah Indonesia merdeka, tidak ada hubungan dengan sejarah masa lalu mereka berada di negeri Belanda. Mereka datang dengan kemauan dan usaha sendiri, tidak terbawa oleh sejarah kepindahan mereka. Mereka ini tidak merasa punya kesamaan dengan kelompok lain, yang telah disebutkan diatas. Demikianpun turunan mereka, tetap mengetahui, mereka berada di Belanda dengan keinginan orang tuanya datang ke Belanda dengan berbagai alasan (maksudnya orang Indonesia yang berada di Belanda dengan kemauan dan usaha sendiri).

    Komunitas “satu darah”

    Satu darah adalah salah satu kelompok geng motor yang terbentuk pada awal tahun 90 di kawasan Moordrecht, sebuah wilayah dekat kota Gouda, Belanda. Pendirinya merupakan warga negara Belanda keturunan Maluku, Indonesia.

    Perbedaan kedalam dapat kita ketahui, kalau mencoba berbincang dengan, diantara mereka. Misalnya ditanya dalam bahasa Indonesia. Dari Indonesia? Tidak ada jawaban. Jangan heran, tetapi pertanyaan kemudian dirubah dalam bahasa Belanda.

    “Waar komt U vandaan?” atau dari mana asal anda? Baru dapat jawaban dalam bahasa Belanda, dan kadang terdengar pula komentar dilontarkan mereka, menceritakan siapa dia, dari kelompok mana asal mereka. Misalnya komentar mereka, kami orang Maluku, orang tua kami dari Ambon dan komentar selanjutnya. Kalau mereka keturunan dari bekas tentara KNIL. Kami orang Indo, kami turunan Belanda, nenek perempuan dari (…..) mereka kadang menyebut kota asal neneknya, tetapi lebih banyak tidak tahu lagi dari mana asal nenek perempuannya.
    Kami orang Jawa, datang dari Suriname dan selanjutnya. Nenek-moyang kami dibawa ke Suriname oleh Belanda. Kami masih punya famili di Jawa, tetapi tidak tahu persisnya, dimana. Tetapi, bila bertemu dengan kelompok ke empat, orang indonesia merdeka, terjadilah percakapan, selagi ada kesempatan untuk berbincang-bincang.

    uniknya Penampilan mereka sama dengan orang di Indonesia satu dengan lainnya, tetapi mereka menganggap diri satu dengan lainnya berbeda.

  • in

    Popular

    PHW, dulu dilirik pun tidak

    Pekanbaru Heritage Walk PHW Komunitas kegiatan gerakan sosial

    Pekanbaru Heritage Walk; Sebagai Kegiatan, Komunitas dan Gerakan
    Pekanbaru Heritage Walk yang lebih banyak disebut sebagai PHW, pada awalnya adalah nama bagi kegiatan yang diselenggarakan pada 11 Maret 2017, kegiatan tersebut mengajak orang untuk lebih mengenal kawasan lama bersejarah di Pekanbaru. Atas sambutan luar biasa dengan kegiatan ini, maka kemudian Pekanbaru Heritage Walk juga dikenal sebagai nama bagi sebuah komunitas, sekaligus juga gerakan yang konsentrasinya adalah memajukan kawasan lama Pekanbaru dengan mimpi mewujudkan sudut-sudut kawasan lama ini menjadi cultural center baru, secara aktif menyebarkan campaignnya pada Januari 2018, dengan mengajak lebih banyak pihak dan komunitas lain untuk berkolaborasi dan mewujudkan karyanya di tempat ini.

    Sebagai gerakan yang memilih tourism sebagai pendekatan, Pekanbaru Heritage Walk lebih menempatkan diri sebagai medium, penghubung bagi siapa saja yang ingin menjadikan Pekanbaru menjadi kota yang lebih baik. Karenanya, Pekanbaru Heritage Walk juga memberikan perhatian lebih bagi society development, menyelenggarakan berbagai sharing class dan mewujudkan mimpi bersama melalui jalan donasi.

    Pekanbaru Heritage Walk Mewujudkan Mimpi Besar, Bersama!
    Volunteering, menjadi relawan sejatinya adalah tentang mengambil bagian dan peran bagi sebuah pekerjaan yang selama ini mungkin terlalu besar untuk dikerjakan sendiri. Pekanbaru Heritage Walk, melalui konsep volunteering mengharapkan lebih banyak orang muda yang bergabung dan mengambil peranannya; Terlibat langsung mengenalkan khazanah kawasan lama Pekanbaru, berperan aktif dalam society development, belajar hal-hal baru, menyebarkan semangat positif dan menghubungkan lebih banyak lagi orang untuk berkarya dan berkolaborasi demi kemajuan Kota Pekanbaru.

    Atas dedikasi tinggi yang disumbangkan, tak ada imbalan paling manis yang dapat dijanjikan selain kesempatan mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari pengalaman bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang baru, ilmu serta wawasan, menjadi bagian dari sebuah perubahan, dan bersenang-senang.

    Kuat kita strong, together kita bersama.

    Pekanbaru Heritage Walk; Man Behind The Gun
    Meski secara organisasi Pekanbaru Heritage Walk tidak memiliki struktur yang mengikat, secara garis besar pembagian kerja team dilakukan berdasar latar belakang dan keahlian masing masing personil.

    Iwan Syawal / Oom Iwan / @iwansyawal
    Senior Tour Guide, Public Relations

    Pekanbaru Heritage Walk PHW Komunitas kegiatan gerakan sosial

    Oom Iwan adalah seorang tour guide profesional yang sangat mengenal kawasan kota lama Pekanbaru dan yakin bahwa kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk terus berkembang, bersama rekan-rekan yang dirasa memiliki semangat yang sama, beliau menginisiasi kegiatan Pekanbaru Heritage Walk.

    Bayu Amde Winata / Bangbay / @bayuamdewinata
    Travel Photographer & Mobile Journalist Eksekutor

    Pekanbaru Heritage Walk PHW Komunitas kegiatan gerakan sosial

    Selain serius dengan karirnya sebagai fotografer, Bayu Amde Winata di mata rekan-rekannya adalah sosok yang senantiasa optimis dan selalu hadir sebagai penyulut untuk mewujudkan kegiatan-kegiatan yang seringkali bersifat spontan, minatnya yang besar terhadap sejarah, membuatnya mencurahkan banyak waktu demi kemajuan Pekanbaru Heritage Walk.

    Riski Ramadani / Dani / @dannycted
    Graphic & Concept Designer, Editor

    Pekanbaru Heritage Walk PHW Komunitas kegiatan gerakan sosial

    Selalu tergugah untuk mengambil bagian pada kegiatan-kegiatan yang mengusahakan perubahan, dalam Pekanbaru Heritage Walk, secara khusus Dani menyiapkan keperluan visual bagi campaign dan inisiasi berbagai kegiatan dalam Pekanbaru Heritage Walk, menerapkan pengetahuannya akan branding, dan sesekali melakukan analisa bagi evaluasi bersama.

    Mike Agnesia / Mike / @mikeagnesia
    PNS & Backpakcer, Public Relations, Concept Inisiator

    Pekanbaru Heritage Walk PHW Komunitas kegiatan gerakan sosial

    Powerful dan memiliki banyak teman adalah kata kunci dan kesan pertama bertemu Mike, perannya yang besar dalam menghubungkan banyak orang, membuka banyak kemungkinan baru, menimbulkan optimisme untuk melakukan hal besar, dan semakin menegaskan peran Pekanbaru Heritage Walk sebagai medium bagi siapa saja yang ingin berkarya atau berusaha mewujudkan kemajuan bagi kota.

    Yulimaswati Nst / Butet / @yulimaswati12
    Tour Guide Traffic and Financial

    Pekanbaru Heritage Walk PHW Komunitas kegiatan gerakan sosial

    Perempuan ramah bernama Yuli atau yang akrab disapa Butet ini awalnya menjadikan kepariwisataan sebagai hobby, Ialu kemudian ikut serius tergabung dalam gerakan Pekanbaru Heritage Walk, sebagai warga yang mendiami kawasan lama Pekanbaru ini, Butet secara aktif menjadi komunikator bagi warga lain di sekitarnya untuk ikut mendukung Pekanbaru Heritage Walk.

    Kegiatan Pekanbaru Heritage Walk PHW
    Kegiatan Pekanbaru Heritage Walking Tour yaitu tur jalan kaki menyusuri lokasi bersejarah Kota Pekanbaru yang berada di Kampung Bandar Senapelan, seperti Rumah Singgah Sultan Siak, Halte dan Terminal Lama Pekanbaru, Pelabuhan dan Aktivitas Bongkar Muat Barang, Rumah Tenun Kampung Bandar, Rumah Melayu Tempo Dulu, Kota Tua Pekanbaru, Tugu Nol Kilometer, Rumah Syahbandar, Istana Hinggap, dan sekitarnya.

    Kegiatan ini bukan hanya sekedar jalan-jalan, tetapi lebih memberi pengalaman baru dan pengembangan wawasan mengenai tempat-tempat bersejarah di Kampung Bandar yang menjadi cikal bakal Kota Pekanbaru. Walaupun masih banyak tempat bersejarah di Kota Pekanbaru lainnya, sebagian telah tercatat dalam artikel kami berjudul : 26 Lokasi Bersejarah di Kota Pekanbaru – Wisata Pekanbaru. Selain itu, dengan mengenal sejarah Kota Pekanbaru dan melestarikan budayanya, maka perekonomian masyarakat akan maju berkembang. Itu yang diharapkan oleh Komunitas Pekanbaru Heritage Walk.

  • in

    Popular sunggal

    Sunggal 1872

    Saat menuntut ilmu di kota Bindjai, Aku berkenalan dengan beberapa pemuda Aceh. Aku juga menjalin persahabatan dengan anak seorang panglima perang Aceh Darusalam. Dia membawa ceritera tentang kedatangan dua kapal perang Netherland dengan bendera Triwarna yang berkibar-kibar dipantai pelabuhan Kutaraja. Tepatnya setahun yang lalu peristiwa itu terjadi. Dan seorang kurir dari istana datang ke Bindjai untuk menemuinya dan memberi sepucuk surat, isinya meminta kepulangannya ke Kutaraja.

    Suatu waktu di kota Bindjai, kami pernah bertemu dan duduk disebuah warung teh milik seorang Singkeh. Singkeh ini adalah Tionghoa yang sudah beragama Islam. Kami berdua terlibat percakapan serius, setelah sebelumnya hanya saling berbasa-basi sebagai seorang kenalan yang sudah hampir setahun tak bertemu. Aku amat menyimak pembicaraannya. Dia sangat bersemangat.

    Ceriteranya menjadi menarik karena gaya berbicara yang cepat dan berkobar. Dia persis seperti tukang pidato. Kalau saja ia berbadan tinggi tegap, pastilah ia menjadi pewaris jabatan Ayahandanya. Begitulah dia melukiskan betapa gagahnya ayahandanya. Sayang sekali tubuhnya pendek, dan tulangnya kecil, hingga selalu tampak kurus.

     

    Di Tanah Deli ini, baru aku lihat wajah-wajah orang Belanda itu dengan langsung. Sebelumnya tak pernah aku melihatnya, hanya baru dengar dari cerita-cerita teman yang datang dari Langkat ke Kabanjahe. Dan di kota Bindjai ini, aku tak hanya bertemu dengan orang Belanda, tapi juga menjadi muridnya sekaligus, lewat seorang guru ilmu hitung disekolah ini, seorang indo, datang dari Jawa.

    Aku kembali menyimak ceriteranya. Dan Tuan muda dari Aceh menerangkan:

    ”Tuan seorang Karo, tak mudah untuk tuan mengikuti ceriteraku ini, karena memang tidak ada persinggungan langsung dengan bangsa tuan. Bangsa tuan tidak pernah ditaklukan oleh Raja Siak, dan kami bangsa Aceh tidak pula pernah menundukkan bangsa tuan. Sedangkan bangsa tuan hidup merdeka sejak dulu kala.”

    ”Tapi tuan boleh ingat, Siak dan wilayah kekuasaannya adalah wilayah yang sudah dipersatukan oleh kesultanan Aceh, dan Belanda sudah berani bertindak terlalu jauh, tuan. Dia hendak menguji nyali dengan kami.”

    ”Saya pernah mendengar ceritera tentang Raja Siak dari Datuk Sunggal. Darinya saya ketahui bahwa Asahan dan juga Deli sama-sama tidak menyenangi Siak.”

    Tuan Muda Daud, pemuda Aceh itu menyambar percakapan yang belum tuntas.

    ”Tepat sekali tuan, dan seperti bangsa kami yang juga tidak menyenanginya. Sudah sejak Sultan Iskandar Muda, Siak sudah kami taklukan. Dan kami menghormati Sultan Deli juga Sultan Asahan. Raja kami, hanya ingin adanya persatuan diantara kita, bangsa-bangsa Sumatera. Dari Ayahanda, aku mendapat cerita tentang tuan Gocah. Jika tuan menjalin kekerabatan dengan Datuk Sunggal, tentunya tuan mengetahui juga cerita tentang tuan Gocah.”

    ”Tuan Gocah?” tanyaku secepat kilat.

    ”Benar sekali tuan Bangun. Tuan Datuk Sunggal mungkin berpendapat bahwa tuan Gocah diutus Sultan Aceh untuk menaklukan tanah Deli, meskipun faktanya Datuk Sunggal mempunyai silsilah keturunan dengannya. Sama sekali tidak benar pendapat itu tuan. Memang pendapat tersebut menjadi pendapat umum rakyat Deli. Tuan Gocah jugalah yang melahirkan keturunan para pembesar Sunggal dari seorang gadis anak pembesar kerajaan Aru. Tuan sendiri seorang Karo dengan merga Bangun, tentu masih kerabat dekat dengan Sultan Aru. Maaf jika dugaanku keliru.” katanya.

    ”Sama sekali tidak tuan. Merga Bangun tentu memiliki leluhur yang sama. Barang tentu kami sama-sama punya tali temali dengan leluhur merga bangun. Tapi maaf sekali tuan, tentang Sultan Aru itu, saya tidak pernah mendapatkan ceritera hubungan kekerabatan dengan kami. Sedang saya sendiri adalah anak seorang Guru adat di Tanah Karo Gugung, dan antara Karo Gugung dan Karo Jahe-jahe sudah lama sekali terpisah, tuan. Perkara tuan Gocah, mungkin lain waktu akan saya pertanyakan secara khusus dengan tuan Datuk Sunggal perihal riwayat hidupnya di tanah Deli.”

     

    Keesokan hari, Aku berkunjung ke istana Datuk Sunggal. Oleh pengawal istana, saya dibolehkan masuk dan dipersilahkan duduk di kursi tamu. Datuk Sunggal menemui saya dengan dua pengawal yang mengiringinya. Ada raut tak senang yang terpancar dari wajahnya. Awalnya saya merasa tak enak hati. Merasa kedatangan diri ini tidak tepat pada waktunya, dan tidak sesuai dengan suasana kesenangan hatinya. Tidak lama kemudian, saya bermohon diri. Ternyata dia mencegahnya.

     

    Dia berkata dalam Karo

    ”Mengapa kamu begitu terburu-buru nak? Tidak senangkah kamu berlama-lama di eistana aku ini?”

    ”Maaf, Bapa Datuk. Bukan maksud saya tidak menghargai niat baik Bapa. Saya hanya tidak ingin mengganggu istirahat Bapa, mungkin Bapa sedang lelah atau sakit. Terlihat oleh saya wajah Bapa yang lesuh. Maafkan saya Bapa. Tadinya saya ingin menemui Bapa untuk mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya telah membantu saya selama bersekolah disini. Saya hendak memohon pamit untuk kepulangan saya ke Batu Karang.” Aku urungkan niat mempertanyakan prihal kekerabatan yang disinggung tuan Muda Daud. Barangkali Ayahku yang memahami soal adat dan riwayat kami dapat membantu menjelaskannya padaku tanpa merepotkan Datuk Sunggal.

    ”Hah.. Duduklah pada kursi kamu tadi, nak. Kapan kiranya kamu kembali ke tanah Gugung, nak?” tanya Datuk.

    ”Mungkin beberapa hari lagi, Bapa. Apa sebabnya Bapa menanyakan itu?”

    ”Seandainya aku bisa ikut denganmu nak, aku pasti memilih kembali ke tanah leluhurku yang merdeka. Memang ada yang sedang mengganggu pikiranku, nak. Aku tidak menyukai Mr. Nienhuys dan juga tidak menyukai Sultan Deli yang telah menyewakan lahannya kepada si Belanda, Mr. Nienhuys itu.”

    ”Aku tak suka mereka merampas kesuburan tanah ini untuk kemakmurannya sendiri. Sekarang ini nak, Sultan juga meminta tanah Sunggal untuk diberikan kepada saudagar Belanda. Mr. Nienhuys telah mengundang tuan tuan Belanda lainnya untuk datang mengikuti jejaknya, mereka menginginkan juga tanah ini.” Aku lihat dia terdiam sejenak, lalu menarik nafas panjang dan bola matanya terlempar kearah dinding seperti mengingat sesuatu. Lalu dia lanjutkan pembicaraannya.

    ”Tak sudi dan tak ekhlas aku untuk berbagi barang sedikitpun dengan mereka. Rakyat Sunggal hidup merdeka dibawah Kesultananku. Dari seorang mata–mata aku mendengar bahwa Sultan Mahmud hendak menyerahkan tanah ini kepada perkebunan De Rotterdam dan Deli Maschapij. Dia sudah melangkahi kewenanganku, dan tidak memandangku sebagai penguasa di tanah Sunggal ini, nak.”

    Tampaklah dihadapanku sebuah wajah merah menahan amarah dengan mata berkaca dan amarah yang hendak lepas. Aku semakin ragu menanggapinya. Aku takut ucapanku malah akan membuatnya semakin tidak enak hati. Wajah amarah itu melanjutkan pembicaraannya.

    ”Jika kami sampai berperang, kabarkanlah kepada kerabat–kerabat diseluruh Tanah Gugung, bahwa aku, marga Surbakti, Sultan dari Sunggal, akan memilih mempertahankan tanah ini dan akan menghabisi siapa saja yang berkehendak menguasainya.”

    Dari sorotan matanya, saya tahu persis bahwa api amarah telah membakarnya. Suara paraunya, dan tetesan air matanya yang tak terbendung akibat amarah yang sudah naik setinggi ubun-ubun kepalanya. Aku belum mengerti bagaimana sikap yang baik untuk menjawab pernyataannya barusan tadi.

    ”Jika kamu berkenan hati, menginaplah barang sehari disini, karena besok aku sendiri akan memimpin sebuah pertemuan besar disini, dengan semua rakyat Sunggal. Langkah kotor Mahmud harus dilawan. Aku tak akan membiarkan seorang Mahmud bisa hidup lagi ditanah ini, dan akan aku kasih mati kepada siapapun yang hendak mengabdi kepada Belanda.”

    ”Baiklah Pa, saya akan pikirkan untuk ikut dalam rencana yang sudah Bapa persiapkan.” jawabku menenangkannya.

    ”Jangan pernah lupa nak, dari Minang, Belanda sampai juga ke Tanah Tapanuli, hingga tanah Deli. Kelak mereka juga akan sampai ke tanah Karo. Jika itu terjadi, jangan pernah lupakan perkataanku ini, Belanda dimanapun akan merampas tanah kelahiranmu.” ucapnya sengan suara gemetar.

    Tuan Datuk Sunggal memohon diri sejenak untuk masuk kedalam biliknya. Aku masih tetap duduk di kursi semula. Pandanganku tertuju pada para pengawal istana. Mereka sudah mengenal baju dan celana. Dan para perempuan disini sudah menutup bagian dadanya. Sedang ditanah kelahiranku masih terbelakang. Kaum perempuan masih bertelanjang dada dan memakai hiasan anting besar dan berat di telinga kirinya. Jika malam hari yang dingin oleh angin pegunungan, hanya ada kain saja yang dibalut menyelimuti badan mereka. Para lelaki juga demikian, dan dengan penutup kepala dari kain.

    Disini sudah mengenal agama. Datuk beragama Islam, dan Belanda beragama Kristen. Pakaian orang-orang Kristen lebih rapi dan lebih enak dipandang mata. Begitulah pakaian para pembesar perkebunan tembakau De Rotterdam. Juga pakaian kaum Misi Zending Protestan dari Minahasa, yang juga berpakaian serba putih.

    Seorang ibu tua mendekatiku dengan menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangan kearah lantai kayu. Kami tidak saling bertatapan. Dia berkata dalam bahasa Karo :

    ”Hari sudah malam, nak. Barangkali kau lelah setelah berlama-lama berbicara dengan tuan Datuk. Masuklah kedalam bilik yang sudah kami persiapkan, dan istirahatlah.”

    Saya berdiri dan dia membalikan badan, lalu berjalan menuntunku ke arah pintu bilik yang sudah dipersiapkan. Aku masuk kedalamnya dan berbaring, dan berdiri kembali untuk menghampiri lampu sumbu, dan mengecilkan apinya untuk mendapatkan cahaya remang. Lalu kembali berbaring, masih terpikir olehku tentang ajakannya berperang melawan Belanda.

    Ahh, jika saja Belanda sampai ke Tanah Karo, pasti dengan mudah aku jawab ajakannya. Belanda masih belum menginjakkan kakinya ke tempat kelahiranku, tapi mereka sudah sampai disini. Sepertinya tak lama lagi mereka ingin pula menguasai tanah kami.

    Cahaya lampu sumbu semakin mengecil, mungkin minyaknya hampir habis. Ngantuk menyerang, mata mulai sayup terpejam.

    Ayam berkokok tanda surya akan terbit. Aku terjaga dan dingin pagi membawaku keluar istana untuk menghirup udaranya. Padang rumput hijau yang luas terbentang bak permadani hidup yang siap menghantarkan ke surga. Sebentar lagi, jika pasukan Datuk kalah, apakah masih ada tempat seindah ini?

    Aku sendiri mengkhawatirkannya. Sanggupkah bala tentara dan rakyat sederhana ini dengan senjata seadanya melawan tentara Belanda yang lengkap dengan senjata mesin ditangannya? Cukupkah semangat dan ikrar untuk bertahan sampai tetes darah penghabisan untuk mempertahankan tanah ini?

    Pikiran cemas ini tak juga mau pergi. Haruskah aku mengusirnya sejenak dengan mandi? Akh, akan aku coba. Aku bergegas menuju bilik air di sebelah selatan tempat pengawal istana membasuh dirinya saban hari.

    Setelah ini, hendaknya aku harus kembali menemui seorang teman, dialah putra pembesar Aceh itu. Banyak hal yang harus aku ceritakan kepadanya tentang percakapanku tadi malam dengan Datuk Sunggal.

    Siang hari aku tiba di kota Bindjai. Tak susah menemuinya. Disebuah warung kopi di perempatan jalan kota, dia pasti ada disana. Barangkali sedang menikmati segelas kopi dan nasi urap.

    ”Kau sudah disini tuan Bangun?”

    ”Seperti yang tuan lihat. Ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan.” terangku.

    ”Duduklah, pesanlah kopi.”

    ”Baiklah.”

    Aku buka percakapan dengan menceriterakan perihal perang Raja Bakara yang di ceriterakan rombongan pelarian dari tanah Tapanuli yang tiba di kampung Saribu Dolok. Raja itu tewas dalam pertempuran terakhirnya di Tanah Phakpak. Tapanuli jatuh ketangan Belanda. Berdirilah pemerintahan Belanda disana, Karesidenan Tapanuli.

    ”Tadi malam, aku diajak bicara oleh Tuan Datuk Sunggal. Dia kecewa atas keputusan Sultan Deli yang hendak menyerahkan tanah Sunggal kepada Belanda untuk perluasan perkebunan Deli. Dia merencanakan perlawanan. Dia juga berpesan kepadaku agar aku turut serta didalam perlawanannya dengan mengajak orang Karo gunung. Itulah yang membuatku bingung. Karo gunung masih belum mengenal Belanda. Mereka masih hidup sederhana.”

    ”Memang aku masih mempertimbangkan kemungkinan Belanda memperluas perkebunannya sampai ke tanah Karo. Tapi untuk apa? Hutan belantara dengan daratan berbukit dan tak rata itu, belum lagi tidak ada jalan transportasi modern seperti di tanah Deli ini, perlu apa mereka kesana? Tapi pantaskah sesama Karo aku tak memberikan pertolongan kepadanya?”

    Kami berbicara dalam Melayu, dan aku sudah fasih berbahasa itu, dari sebab menuntut ilmu di kota ini. Perang Aceh masih berlangsung. Dan sahabatku ini adalah pemuda yang bersemangat sekali. Mungkin dia dikirim ke kota ini tidak hanya untuk belajar. Mungkin saja untuk menjalin kerjasama antar kerajaan. Dia adalah putra pembesar Aceh, dia pasti diterima dengan baik dikalangan kesultanan Deli. Paling tidak, mereka sama-sama Islam.

    ”Aku ingin sekali tuan membujuk Sultan Deli untuk mengurungkan niatnya. Paling tidak tuan, kita sama-sama berkulit coklat dan berambut hitam. Tak perlu kita menumpahkan darah sesama kita, tuan.” pintaku kepadanya.

    ”Tak mudah untuk dapat bertatap wajah dengannya, apalagi bisa mencegah keinginannya. Rasanya, aku tak akan punya kesempatan itu. Maaf tuan Bangun, aku tidak bisa berjanji memenuhi permintaan tuan.”

    ”Terimakasih tuan, tidak mengapa. Mungkin ini takdir kita, takdir bangsa kulit coklat, harus menerima adu domba dan harus saling menghancurkan demi tetap bertahan hidup dari ancaman.” Aku tutup pembicaraan dengannya, barangkali sudah tidak ada gunanya lagi dilanjutkan.

    Sebulan telah berlalu. Aku sendiri sudah menyelesaikan sekolah di kota ini. Aku mempersiapkan diri bergegas pulang ke tanah kelahiranku. Tanah Karo Simalem.

    Aku lupa menghitung hari, entah sudah berapa lama aku di tanah Karo ini. Aku masih saja teringat Sunggal, tapi belum juga mendapat kabar darinya. Aku masih berharap pertumpahan darah tidak terjadi meskipun aku tahu itu mustahil. Akhirnya seorang pekerja perkebunan Deli pulang kesini, menjumpai istrinya di Kandibata. Aku menemuinya. Perang sudah pecah di Tanah Sunggal.

    ”Dengan apa mereka berperang?” tanyaku kepada pekerja itu.

    ”Dengan apa saja.” jawabnya pendek.

    ”Apakah mereka menang?” tanyaku lagi.

    ”Masih perang, masih belum ada pemenangnya.” jawabnya.

     

    Aku tertunduk, pikiranku mencemaskan Datuk Sunggal. Hampir saja aku lupa pada kalimat terakhirnya pada kunjunganku ke istananya. Astaga, tanah Karo, tanah kelahiranku ini, kapankah mereka tiba disini untuk merebutnya? Kali ini aku benar-benar disita kecemasan.

    Aku kembali berkutat pada pertanyaan di kepalaku bulan lalu, apa pentingnya Belanda masuk ke tanah yang isinya hutan belantara dengan jurang-jurang dan bukit terjal ini?

    Aku teringat pada jalan sempit yang dibuka orang karo untuk pergi ke tanah Deli dalam urusan perdagangan. Tanah ini penghasil buah dan sayuran, dan kami menjualnya ke tanah Deli. Belanda berkuasa di tanah Deli. Bukan tidak mungkin Belanda cepat atau lambat akan mengetahui tanah kami dari para pedagang yang memamerkan hasil alamnya di pasar? Bukankah ini akan menjadi alasan Belanda untuk merampas tanah kami yang subur?

    Aku kembali mengingat janjiku. Janji untuk menimbang keikutsertaan kami dalam perang melawan Belanda. “Jangan lupakan, nak…” Ya, Datuk, kalimat itu benar-benar berhasil memenuhi kepalaku.

    Aku seorang terpelajar. Baik buruknya Belanda sudah masuk dalam penilaianku. Sejauh ini aku menilainya buruk. Tak ada pilihan selain berjaga. Kalau ini yang harus ditempuh, akan aku tempuh dengan lapang dada. Esok, tibalah pada perjalanan yang menentukan. Aku harus mengelilingi tanah ini untuk menjelaskan apa yang aku lihat dan apa yang terjadi pada tanah Sunggal. Tanah ini harus menjadi kuburan bagi Belanda.

    Aku, Kiras Bangun, bersumpah atas diriku sendiri, akan berperang melawan Belanda dan akan mengangkat sumpah pada setiap orang Karo agar mempertahankan tanah ini, dan kutukan akan jatuh kepada mereka yang berhianat pada tanah kelahirannya.

    Cerpen ini merupakan bagian dari buku antologi cerpen nasional “Yang Terlupakan” terbitan InMedia Publishing. *Randy

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • in

    Popular

    Kesultanan Kuntu Darussalam

    Sejarah keberadaan Masyarakat Adat Kuntu dilalui dengan beberapa fase yaitu fase awal dan kesultanan Kuntu, Kerajaan gunung Sailan, masa pra kemerdekaan dan kemerdekaan. Tidak sampai seabad setelah wafatnya Rasulullah SAW, agama Islam telah menjejakkan kakinya di nusantara, yakni melalui hubungan dagang antara Ke-Khalifahan Bani Ummayah (661–750) di Damaskus dengan Kerajaan Sriwijaya Jambi (sebelum Sriwijaya Palembang). Melalui hubungan itu pada tahun 718 M, Sri Maharaja Sirindrawarman masuk Islam. Sehingga wilayah sentral produksi merica Nusantara yang telah terkenal sejak tahun 500-an, seperti daerah Batang hari Jambi, Kuntu Kampar, Minangkabau dan Aceh Barat, secara defacto berada dalam kekuasaan Kerajaan Islam yang tunduk kepada Khalifah Bani Umayyah.

     

    Namun 4 tahun setelah kejadian itu, Kerajaan dinasty Tang Cina, merebut semua wilayah penghasil merica nusantara. Kerajaan Sriwijaya Jambi yang telah Islam dibumi hanguskan, diganti dengan munculnya Kerajaan Sriwijaya Palembang yang beragama Budha Mahayana dibawah kekuasaan Dinasty Saylendra. Sedangkan di Jambi sendiri saat itu berdiri Kerajaan Darmasraya yang juga beragama Budha. Akibatnya, hampir selama 400 tahun kemudian (730-1128) perkembangan Islam, khususnya di Kepulauan Sumatera nyaris terhenti. (dimasa inilah dalam ungkapan masyarakat Kuntu dikenal istilah “Apik Tupai Panggang Kaluang”. Untunglah sesudah itu di Mesir berdiri Ke-Khalifahan Bani Fatimiyah (976-1168) melanjutkan usaha monopoli perdagangan di wilayah Sumatera yang secara berturut-turut berhasil merebut kembali sentral penghasil merica di muara sungai Pasai dan di hulu sungai kampar kiri. Di wilayah ini kemudian dibentuk kesyahbandaran Daya Pasai (1128 – 1204) yang tunduk dibawah kekuasaan Bani Fatimiyah di Mesir, sebagai pelabuhan Islam pertama di kepulauan nusantara.

     

    Khusus untuk wilayah di sekitar muara sungai kampar kiri yang merupakan centra penghasil rempah terbesar, melalui kesyahbandaraan Daya Pasai, Ke-Khalifahan Bani Fatimiyah menempatkan satu pasukan tentara di bawah komando Panglima Zulfikar Al-Kamil. Setelah 23 tahun kekhalifaahn Bani Fatimiyah diruntuhkan oleh Salahuddin al-Ayubi di Mesir(1168), kesyahbandaran Daya Pasai yang dipimpin oleh Laksamana Kafrawi al-Kamil, berada dalam kevakuman pemerintahan induk. Akibatnya, pada tahun 1191 pasukan Zulfikar al- Kamil di muara sungai Kampar Kiri ini dipukul mundur oleh tentara Darmasraya Jambi.(Tahun 1191 merupakan tahun wafatnya Syekh Burhanuddin yang di makamkan di Kuntu, apakah dia Zulfikar al-Kamil atau hanya kebetulan? wallahu a’lam).

     

    Pada tahun 1204, Kondisi Laksamana Kafrawy al-Kamil yang sudah tua, ditambah hilangnya pusat pemerintahan Bany Fatimiyah di Mesir, dimanfaatkan oleh kapten Johan Jani, panglima kapal perang kesyahbandaraan Daya Pasai untuk memberontak. Hingga Laksamana Kafrawy al-Kamil terbunuh, dan Johan Jani mengangkat dirinya sebagai Laksamana Daya Pasai, sekaligus merubah status Daya Pasai dari kesyahbandaran menjadi Kerajaan utuh. Ia menjadi Raja Daya Pasai pertama dengan gelar “Tuanku Sri Sultan Djohan Djani Alam Sjah”.

     

    Meskipun Daya Pasai adalah Kerajaan Islam, tetapi bukan Kerajaan nasional Indonesia, sebab Laksamana Johan Jani atau “Tuanku Sri Sultan Djohan Djani Alam Sjah” dan para penerusnya adalah orang-orang Gujarat (India). Mungkin inilah sebabnya Daya Pasai tidak disebut sebagai Kerajaan Islam Pertama di Nusantara, melainkan Samudera Pasai sebagaimana yang dipelajari bangku-bangku sekolah.

    Samudera Pasai sendiri berdiri pada tahun 1285, yakni setelah Kerajaan Daya Pasai hancur lebur dihantam gempuran dari dua arah, yakni dari darat oleh pasukan Marah Silu alias Iskandar Malik.

     

    yang memimpin kelompok muslim pribumi dari Batak Aceh Gayo, dan dari laut diserang oleh armada dari Ke-Khalifahan Bani Mamaluk yang dipimpin oleh Laksamana Ismail As Siddik. Pada saat yang sama, armada Tamiang pimpinan Laksamana Yusuf Kayamudin yang bekerjasama dengan pasukan perang Dinasty Yuang berusaha menyerang pasukan Iskandar Malik namun keduanya berhasil dihancurkan oleh armada perlak di bawah komando Laksamana Muhammad Amin. Muhammad Amin sendiri adalah Ayah tiri dari Marah Silu, sehingga berdasarkan persetujuan Muhammad Amin, Marah Silu atau Iskandar Malik dinobatkan oleh Laksana Ismail menjadi Raja di Pasai yang berganti nama menjadi Kerajaan Samudera Pasai dengan gelar “Sultan Malikus us Saleh”.

     

    Sultan Malikul Saleh, memiliki dua orang putra, yakni Pangeran Malik Tahir dan Pangeran Malik ul Mansur. Sepeninggal Malikul Saleh, pangeran Malik ut Tahir naik tahta (1296 – 1327) Memimpin Samudera Pasai. Sedangkan pangeran Malik ul Mansur yang menikahi salah seorang cucu dari Sultan Bahaudin Kamil, yakni Putri Nur Alam Kumalasari, memilih untuk tinggal dan memimpin di wilayah muara sungai Barumun sejak tahun 1295 (setahun sebelum pengangkatan Malik ut Tahir menjadi Raja Samudera Pasai II). Entah karena pengaruh faham Sunny yang dianut oleh isterinya, Pangeran Malik ul Mansur akhirnya membangkang pada Kerajaan Samudera Pasai yang saat itu dipimpin oleh saudaranya yang berfaham syi’ah. Sehingga pada tahun 1299 Malik ul Mansur mendirikan kesultanan Aru Barumun.

    Guna menghindari perang saudara, serta khawatir dengan sabotase dari orang-orang Gujarat (India) bekas Kerajaan Daya Pasai yang mengincar menjadi Raja Daya Pasai ke-7, akhirnya Kerajaan dibagi dua, menjadi Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Aru Barumun yang wilayahnya dibatasi oleh sungai Tamiang Aceh.

     

    Pada masa yang sama, yakni sekitar 1275-1289, Kerajaan Singosari di Jawa melakukan ekspansi besar-besaran dalam mengambil alih kendali perdagangan rempah2 sumatera melalui sebuah gerakan yang dikenal dengan istilah “Pamalayu Expedition”. Gerakan ini berhasil mengambil alih wilayah pusat produksi rempah di Kuntu Kampar, meskipun tidak berhasil menjatuhkan Kerajaan Samudera Pasai dan Aru Barumun.

     

    Pada tahun 1292, Kerajaan Singosari di Jawa timur ditumbangkan oleh Kerajaan Kediri yang kemudian juga musnah oleh Kerajaan Majapahit. Akibatnya, sisa balatentara Singosari dalam “Pamalayu Expedition” yang berada di Kuntu Kampar, menjadi terisolasi dari Induknya yang telah musnah, sehingga Sultan Malik ul Mansur, Raja Aru Barumun dengan mudah merebut kembali wilayah Kuntu Kampar nyaris tanpa perlawanan dan dibiarkan pula oleh pihak samudera Pasai yang sejak tahun 1279 Kerajaan Perlak sebagai induknya telah berada di bawah kekuasaan Majapahit.

    Atas dasar itulah kemudian, Sultan Malik ul Mansur, Raja Aru Barumun mendeklarasikan berdirinya kesultanan Kuntu Kampar sebagai Kerajaan kecil (semacam propinsi) dibawah kesultanan Aru Barumun. Sultan Malikul Mansur mengangkat putranya, Sultan Said Amanullah Perkasa Alam sebagai Sultan Kuntu yang pertama. Menurut buku Tuanku Rao, Sultan Anmanullah Perkasa Alam, berwatak buruk, Sombong dan suka menindas penduduk setempat. Karena kesombongannya itu pula dia tidak mau mengakui bahwa kakeknya, Sultan Malikus Saleh (Raja Samudera Pasai) adalah orang Sumatera, melainkan katanya keturunan Iskandar Zulkarnain. Mitos inilah yang kemudian berkembang di wilayah Kesultanan Kuntu Kampar.

     

    Kesultanan Kuntu Kampar terletak di Minangkabau Timur, daerah hulu dari aliran Kampar Kiri dan Kanan. Kesultanan Kuntu atau juga disebut dengan Kuntu Darussalam di masa lalu adalah daerah yang kaya penghasil lada dan menjadi rebutan Kerajaan lain, hingga akhirnya Kesultanan Kuntu dikuasai oleh Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. Kini wilayah Kesultanan Kuntu hanya menjadi sebuah cerita tanpa meninggalkan sedikitpun sisa masa kejayaan, Kesultanan Kuntu kini berada di wilayah Kecamatan Kampar Kiri (Lipat Kain) Kabupaten kampar.

    Kuntu di masa dahulu adalah sebuah daerah yang sangat strategis baik dalam perjalanan sungai maupun darat. Di bagian barat daya Kuntu, di seberangnya ada hutan besar yang disebut Kebun Raja. Di dalam hutan yang bertanah tinggi itu, selain batang getah, juga ada ratusan kuburan tua. Satu petunjuk bahwa Kuntu dulu merupakan daerah yang cukup ramai adalah ditemukannya empat buah pandam perkuburan yang tua sekali sehingga hampir seluruh batu nisan yang umumnya terbuat dari kayu sungkai sudah membatu (litifikasi). Salah satu di antara makam-makam tua itu makam Syekh Burhanuddin, penyiar agama Islam dan guru besar Tarekat Naqsabandiyah yang terdapat di Kuntu. Makam itu berada dekat Batang Sebayang. Syekh Burhanuddin diperkirakan lahir 530 H atau 1111 M di Makkah Almukarramah dan meninggal pada 610 H atau 1191 M. Menurut buku Sejarah Riau yang disusun oleh tim penulis dari Universitas Riau terbitan tahun 1998/1999, Kuntu adalah daerah yang pertama-tama di Riau yang berhubungan dengan pedagang-pedagang asing dari Cina, India, dan negeri Arab Persia. Kuntu juga daerah pertama yang memainkan peranan dalam sejarah Riau, karena daerah lembah Sungai Kampar Kiri adalah daerah penghasil lada terpenting di seluruh dunia dalam periode antara 500- 1400 masehi.

     

    Zaman dahulu, Kuntu dikenal sebagai daerah yang subur dan berperan sebagai gudang penyedia bahan baku lada, rempah-rempah dan hasil hutan. Pelabuhan ekspornya adalah Samudra Pasai, dengan pasar besarnya di Gujarat. Kuntu juga adalah wilayah yang strategis sebab terletak terbuka ke Selat Melaka, tanpa dirintangi pegunungan. Kuntu juga adalah tanah tua yang mula- mula dimasuki Islam yang dibawa oleh para pedagang dan di masa itu baru dianut di kalangan terbatas (pedagang) karena masih kuatnya pengaruh agama Budha yang menjadi agama resmi Sriwijaya di masa itu. Ketika Cina merebut pasaran dagang yang menyebabkan para pedagang Islam Arab-Persia terdesak, maka penyebaran Islam sempat terhenti.

    Para pedagang Arab-Persia-Maroko mulai kembali berdagang di Kuntu dalam abad ke XII Masehi di masa kekuasaan Kesultanan Mesir era Fatimiyah, dinasti yang mendirikan Universitas Al Azhar di Kairo. Kuntu juga memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Islam Dayah di Aceh di bawah Sultan Johan Syah dalam hal perniagaan. Setelah Kerajaan Pasai berdiri, mereka bahkan berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah di Kuntu. Pada waktu itu dihulu sungai Siantan sudah ada suatu Kerajaan yang bernama Kerajaan Putri Lindung Bulan yang Rajanya berasal dari Hindustan yang mana Kerajaan ini pernah diserang oleh Raja kedatangan Hindustan juga, karena beliau tidak bisa memerangi Raja/Ratu Putri Lindung Bulan Aditiawarman terus lari arah ke barat setelah beberapa lama dalam perjalanan mereka sampai ke Luhak Tanah Datar, karena ia lengkap membawa senjata Aditiawarman disambut dengan baik oleh penduduk Tanah Datar karena takut dengan kelengkapan senjatanya, setelah beberapa lamanya dan akhirnya Aditiawarman menjadi penguasa dan menobatkan dirinya sebagai Raja Minang Kabau di Pagaruyuang dengan menaklukkan tiga jurai Aditiawarman berkuasa 1339 sampai 1376 dan anaknya Anggawarman 1377 sampai 1400 an. Yaitu:

    • Sultan Bakilap Alam, adalah raja pertama yang diakui.
    • Sultan persembahan.
    • Sultan Alif.
    • Sultan Banandangan.
    • Sultan Bawang (Sultan Muning l )
    • Sultan Patah (Sultan Muning ll)
    • Sultan Muning lll.
    • Sultan Sembahyang.
    • Putri Gadih Reno Sumpur.
    • Sultan Ibrahim.
    • Sultan Usman.

    Aditiawarman tidak tercatat sebagai Raja Minang Kabau tetapi berkuasa di Minang Kabau Pagaruyung, bersama anak keturunannya yaitu Anggawarman sampai Raja pertama yang di nobatkan. Dan selanjutnya kembali kepada pengikut Parpatih Nan Sabatang, yang turun dari Luhak Lima Puluh, adalah 5 (lima) datuk ke Lima Kota (Kuok, Bangkinang, Salo, Air Tiris, dan Rumbio) di sungai Kampar Kanan, dan tiga datuk ke gunung lelo malintang, dan Muaro Takui (Muara Takus). Di Kampar Kiri diantaranya Dt.Raja Godang yang di Kuntu. Dengan telah hilangnya Kerajaan Putri Lindungan Bulan di sungai Siantan, yang disebut Kerajaan Minang Kabau Timur, atau Kerajaan Minang Tauwan/Kuntu Kampar. Pada abad 14 sampai abad 17, Kuntu dikuasai oleh Kerajaan Pagaruyung, Minang Kabau, dan diri sinilah cikal bakal Kerajaan Gunung Sahilan yang berada di sungai Kampar.

  • in

    Popular

    Boven Digoel: Mati di gigit nyamuk hingga kencing hitam

    Boven Digoel adalah penjara alam yang didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda di Pulau Papua. Kondisi penjara ini sangat tidak bersahabat dan digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mematahkan perlawanan kaum pergerakan. Sumber lain menjelaskan bahwa Boven Digoel adalah tempat pembuangan/pengasingan/hukuman bagi orang-orang yang dianggap membahayakan pemerintahan kolonial Belanda. Kamp Boven Digul terletak di hilir tepi sungai Digul dan Kamp tersebut dipersiapkan dengan tergesa-gesa untuk mengatasi kebijakan akhir pemerintah kolonial terhadap orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan komunis 1926. Luas wilayah kawasan itu hampir 10.000 hektar, dan terkenal sangat terasing dari dunia luar. Sedangkan menurut buku Ensiklopedia Digul atau Digul Atas (Belanda: Boven Digoel) adalah sebuah daerah hutan lebat, sebelah timur sungai Digul Hilir, Irian Jaya, tempat ini terkenal sebagai tempat pembuangan pejuang-pejuang kemerdekaan. Tempat ini terasing dari peradaban masyarakat.

    Gubernur Jendral Hindia Belanda memiliki senjata andal dalam membatasi ruang gerak kaum pergerakan nasional. Gubernur Jendral berhak membuang dan memenjarakan seseorang yang dinilai membahayakan keamanan dan ketertiban tanpa melalui pengadilan. Selama pemerintah Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge, banyak tokoh nasionalis Indonesia dijerat hak ini.

    Sejarah

    Awalnya tempat pembuangan tokoh-tokoh Indonesia pada zaman Belanda ini terdapat di Luar Negeri, bebarapa tokoh-tokoh Indonesia telah dibuang dan diasingkan di Luar Indonesia, tokoh Indonesia yang terakhir dibuang di Luar Negeri adalah Semaun dan Darsono (dua orang ini adalah pemimpin pemogokan kaum buruh pada tahun 1923). Sebelas tahun sebelumnya dibuang ke Eropa tiga pemimpin partai politik pertama di Indonesia antara lain E.F.E Douwes Deker, Suwardi Suryaningrat, Tjipto Mangunkusumo. Kemudian karena di Boven Digul diperkuat administrasinya oleh Belanda sehingga dibangunlah pengasingan oleh kekuasaan militer pada saat itu. Kamp konsentrasi Boven Digoel didirikan oleh Kapten L. Th. Becking pada awal tahun 1927. Sebelumnya Kapten ini dikenal sukses memadamkan pemberontakan komuni di Banten pada November 1926.

    Boven Digul sebenarnya tidak dirancang sebagai sebuah kamp konsentrasi karena tidak ada penyiksaan atau pembunuhan terhadap tawanan di tempat itu. Pemerintahan kolonial hanya membiarkan tawanan sampai mati, gila atau menjadi hancur. Dengan adanya pembangunan kamp Boven Digul ini maka pengasingan di Luar Negeri dihentikan. Pembangunan Penjara Boven Digul ini dibangun untuk pengasingan orang-orang yang dianggap terlibat ataupun bersimpati dalam pemberontakan pada tahun 1926-1927, tanpa melalui keputusan pengadilan. Pemberontakan pada masa itu tercatat dalam sejarah menjadi pemberontakan Nasional pertama di Indonesia karena 2 alasan.

    Pertama, berbagai pemberontakan terjadi di Kariseidenan-karisidenan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku yang digerakkan oleh tokoh-tokoh dari berbagai aliran politik dan pemeluk agama. Kedua, Sebelumnya tidak pernah terjadi pemberontakan besar di wilayah yang demikian luas tanpa membedakan suku maupun agama, walaupun tanpa koordinasi Nasional, dengan Partai Komunis Indonesia sebagai ujung tombak dan menjadi pemula dalam pemberontakan itu. Pemberontakan ini bermuara di Digul Hulu atau Boven Digul. Gubernur Andries Cornelis Dirk de Graeff berhadap dengan mengirimkan para pemberontak ke kamp Boven Digul itu mereka tidak akan mengulangi kelakuannya lagi pada masa selanjutnya. Sebenarnya kompleks penjara ini dibangun oleh Belanda secara bertahap-tahap dan merintis administrasi secara kuat, agar para tawanan sulit untuk melarikan diri, kemudian ketika penjara ini sudah jadi, kemudian beberapa tokoh Indonesia yang fenomenal dibuang oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1935, tokoh-tokoh tersebut adalah Mohammad Hatta (wakil Presiden 1945), Sutan Syahir, dan para tokoh perjuangan lainnya. Sutan Syahrir merupakan pemimpin Partai Nasional Indonesia yang pemberontakan terhadap Hindia Belanda. Pergerakan yang dipimpin oleh Sutan syahrir ini selalu dikejar-kejar dengan bantuan semua undang-undang dan peraturan yang diperlukan untuk melindungi kekuasaan dan ketentraman Pemerintah Hindia Belanda, dengan persetujuan Pemerintah dan parlemen Belanda. Pada tahun 1934 seluruh pengurus PNI baru ditangkap dan pemimimpin juga kadernya dibuang ke Boven digul. Kemudian satu tahun kemudian hatta dan sutan syahrir dipindahkan untuk waktu yang tidak ditentukan ke suatu tempat yang dianggap layak bagi seorang cendikiawan, yaitu pulau Bnada Neira di Maluku.

    Geografi

    Boven Digul merupakan tempat terpencil, terletak di tengah hutan belantara dekat hulu sungai Digul, di selatan Papua. Di sebelah utara, timur, dan selatan, tempat ini dikelilingi hutan lebat yang sangat sulit ditembus dan tempatnya sangat jauh terisolasi, sehingga para tawanan akan kesulitan untuk melarikan diri dari penjara alam ini. Disebelah barat terdapat Sungai Digul. Bukan hanya karena alamnya yang demikian keras, namun juga ada beberapa siksaan kaum kolonialis, ada tangisan kesedihan dari para tawanan, dan juga kegeraman dan kertakan gigi, bahkan darah yang tertumpah untuk sebuah perjuangan membebaskan diri dari belenggu kolonialis.

    Penjara Boven Digul berada di tepi Sungai Digul, Papua
    Keterkucilan Digul menjadi pertimbangan utama pemerintah kolonial ketika memilih lokasi ini sebagai permukiman bagi para tawanan pada tahun 1927. Di Digul terdapat dua permukiman, yaitu Tanah Merah dan Tanah Tinggi. Di Tanah Merah terdapat pusat administrasi dan militer serta tempat penahan utama. Tanah Tinggi merupakan lokasi penampungan bagi para tawanan yang dianggap tidak dapat diatur. Sewaktu rombongan pertama datang, Digoel sama sekali belum merupakan daerah permukiman. Rombongan pertama sebanyak 1.300 orang yang sebagian besar dari Banten, diberangkatkan pada Januari 1927. Kemudian rombongan pertama tawanan tiba di Digul pada Maret 1927.

    Pada akhir Maret 1927, menyusul ratusan orang lain dari Sumatera Barat. Mula-mula mereka ditempatkan di Tanah Merah. Dua tahun kemudian, melalui seleksi ketat, sebagian dipindahkan ke Tanah Tinggi. Sebagian besar adalah mereka yang terlibat atau dituduh terlibat dalam pemberontakan PKI 1926. Setelah itu, rombongan tahanan politik lainnya menyusul. Sekarang tempat ini sudah menjadi pemukiman penduduk papua, untuk menjangkau penjara ini yang tepatnya berada di kabupaten Boven Digul, orang bisa menggunakan penerbangan pesawat Twin Otter sekitar 90 menit dari Bandara Moppa, Merauke. Namun saat musim kemarau bisa pula ditempuh melalui jalan darat sepanjang 500 kilometer dari Kota Merauke ke Tanah Merah. Selain itu dengan kapal laut dari Marauke ke laut lepas kemudian menyusuri Sungai Digul.

     

    Golongan naturalis dan golongan Werkwillig
    Ibu kota dari Boven Digoel adalah Tanah Merah. Pada waktu kampung Tanah merah ini terbagi menjadi dua bagian itu, yang dipisahkan oleh sebuah jalan yang lebarnya kira-kira dua meter. Kampung ini dikategorikan dengan Kampung A dan Kampung B. orang-orang buangan yang tinggal di kampung A kebanyakan orang yang tidak mau bekerja pada pemerintah. Mereka disebut kaum naturalis, disebut kaum naturalis karena saban bulan mereka menerima makanan secara natura dari pemerintah setempat. Ransum dalam natura itu jumlahnya setiap bulan: 18 Kg beras, 2 kg ikan asin, 300 gram the, 300 gram kacang hijau, 2/3 botol limonde minya kelapa. Kebanyakan orang buangan yang tinggal di Kampung B, Ialah mereka yang disebut Werkwillig, orang-orang yang mau bekerja dengan pemerintah setempat. Orang yang mau bekerja diupah 40 sen sehari.

    Kerjanya kebanyakan mencangkul parit, menggali selokan dan pekerjaan yang seperti itu. Sebenarnya ada satu golongan yang ketiga, yaitu orang buangan yang dari semulanya menentang terus dan tidak mau mengikuti perintah, sekalipun untuk kepentingan sendiri, seperti memberishkan halaman sendiri, Mereka pada golongan ini dicap sebagai onverzlijken atau menentang terus. Pada akhirnya mereka dikirim ke Tanah tinggi yaitu Boven Digoel oleh pemerintah setempat (pemerintah Belanda), kira-kira sehari lebih hulu dari Tanah merah. Meraka tidak mau membuat rumah sendiri dan kampung sendiri, mereka semuanya tinggal pada satu barak yang sudah disediakan oleh pihak pemerintah Belanda-hindia. Jumlahnya ada kira-kira beberapa puluh orang. Mereka di tanah tinggi dijaga oleh beberapa kompi serdadu yang tinggal di tangsi sendiri dekat pada barak kaum onverzeonlijken. Karena letak daerah Tanah Tinggi ini begitu mengerikan, sehingga banyak para buangan yang menderita sakit parah, kemudian banyak beberapa buangan yang menyerah kepada pihak Belanda untuk menjadi orang werkwillig dan terus bekerja di Tanah Merah.

    Penderitaan Tawanan

    Meski berstatus sebagai tahanan politik, para tawanan diperlakukan layaknya penjahat biasa. Setiba di lokasi pengasingan, para tawanan digeledah dan surat pribadi mereka disita. Setiap pagi mereka harus berkumpul, kemudian digiring ke hutan atau rawa-rawa untuk melakukan kerja paksa. Kondisi ini mendorong aksi protes para tawanan. Sebagaian besar tawanan adalah bekas pegawai pemerintah atau pekerja swasta yang tidak terbiasa dengan pekerjaan kasar. Mempertimbangkan protes tersebut, kebijakan ini akhirnya dihapus.

    Dalam perkembangannya, para tawanan terbagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu golongan yang bersikap kooperatif, golongan non-kooperatif tetapi tidak memerlihatkan sikap menentang. Kelompok terakhir ini kemudian diasingkan ke Tanah Tinggi.
    Para tawanan di Digul sebenarnya tidak mengalami penyiksaan fisik. Namun, Digul merupakan neraka alam. Di daerah ini terdapat beragam perangkat alami penyiksaan yang menghancurkan kesehatan jasmani dan rohani para tawanan, diantaranya adalah iklim yang buruk, serangan nyamuk penjangkit malaria, keterasingan dari peradaban manusia, juga diserang demam yang tinggi hingga kencing hitam yang diderita oleh para tawanan ini dan juga rasa rindu kepada keluarga. Selain itu, masih ada ancaman serangan dari suku-suku liar yang menghuni kawasan itu. Sehingga penjara di Boven Digul ini merupakan penjara alam yang dapat mematikan manusia, ibarat penjara tanpa bilik yang menggambarkan kondisi Boven Digoel pada saat itu yang sepi dan memberikan cekaman kebosanan bagi mereka para tawanan yang dibuang ke daerah ini. Akibat stres yang berkepanjangan, sejumlah tawanan menderita gangguan jiwa.

    Bahkan, ada beberapa kasus bunuh diri di antara para tawanan tersebut. Lingkungan yang seperti itu telah memakan korban jiwa. Kondisi di penjara ini juga terbilang sangat mengerikan, karena antar tawanan dengan tawanan sering bertengkar, bermusuhan, hingga saling membunuh, sehingga terlihat seperti hukuman mati dalam jangka panjang. Di luar suku Irian yang masih primitif tersebut itulah yang membuat mereka para suku Irian tidak mempunyai rasa bersahabat dengan para tawanan, dan pada akhirnya para tawanan yang bermaksud untuk lari dari penjara yang dibuat oleh Belanda ini tidak akan berhasil melewati para suku lokal yang tidak bersahabat ini.

    Pelarian diri oleh tawanan
    Kehidupan keras di Boven Digul mendorong sejumlah tawanan berusaha melarikan diri. Umumnya, upaya ini menemui kegagalan akibat medan yang sulit, serangan penduduk lokal, dan ancaman binatang buas yang banyak menghuni wilayah tersebut. Beberapa orang berhasil melarikan diri dan mencapai wilayah Papua yang dikuasai Australia. Mereka ditangkap oleh pihak Australia dan dikembalikan lagi ke tangan Belanda. Kehidupan keras di Boven Digul berlangsung hingga pecahnya Perang Pasifik. Ketika tentara Jepang menyerbu Papua, Belanda mengirim para tawanan ke Australia.

    Pecahnya perang Pasifik

    Pada saat Jepang meduduki Indonesia dan juga pecahnya Perang Pasifik, para tawanan Boven Digoel dipindahkan atau dialihkan oleh Belanda ke Australia. Pemindahan itu dikarenakan pihak Belanda kekhawatiran tahanan akan memberontak jika tetap berada di Boven Digul. Bagian dari kamp itu tidak dibebaskan lebih awal dari pertengahan 1943, akan tetapi ketika dalam menghadapi pendudukan Jepang, pada akhirnya Belanda menutup kamp Digoel tersebut dan mengirim seluruh penduduk ataupun tawanan Boven Digoel ke Australia. Belanda berharap orang-orang Indonesia yang menjadi tawanannya dan kemudian dibawa ke Australia akan membantu Belanda. Akan tetapi keadaan malah berbalik, tahanan politik itu dapat mempengaruhi serikat buruh Australia untuk memboikot kapal-kapal Belanda yang mendarat di Benua Kanguru. Akhirnya setelah Sekutu berhasil memperoleh kemenangan dari pemerintahan kolonial Belanda di Hindia Belanda, tawanan itu dikembalikan ke tempat asalnya di Indonesia. Pada akhirnya sekutu menduduki Indonesia. Sehingga beralih tangan, dari tangan Belanda ke tangan Jepang. Indonesia masih berada dalam kekuasaan negara lain. Hingga akhirnya Indonesia merdeka tahun 1945.

    Kisah para Tawanan

    Penghuni Kamp Digul ini hampir semuanya adalah para aktivis politik yang melakukan pemberontakan kepada kolonial Belanda, Banyak tokoh-tokoh terkenal yang dibuang ke kamp ini, ada juga banyak cerita para penghuni kamp, yang merupakan sejarah kecil untuk menuju ke kemerdekaan Indonesia.

    Thomas Nayoan adalah seorang Minahasa yang berusaha untuk melarikan diri dari kamp tersebut. Semuanya tertulis dalam buku “Jalan ke Pengasingan” karya John Ingleson, dalam buku ini diceritakan bahwa Thomas Nayoan ini adalah tawanan yang gigih untuk melarikan diri, walaupaun pelariannya gagal dan sempat menyasar di Australia, Ia melarikan diri lewat sungai dengan menggunakan perahu, akan tetapi malah tibanya di Australia, karena memang sebelumnya Australia sudah memiliki perjanjian ektradisi dengan Belanda, maka Ia digelandang kembali ke kamp digul, Ia merupakan salah satu tokoh dalam pemberontakan PKI di Banten.

    Cerita lainnya datang dari Mohammad Bondan, aktivis PNI kelahiran Cirebon tahun 1910. Kisahnya ini diceritakan dalam karya dengan judul “Spanning a Revolution” yang menceritakan adalah Istrinya, Molly Bondan menceritakan pengalaman suaminya selama berada di kamp konsentrasi Digul. Dalam buku itu dikisahkan perjalanan Bondan ketika di Digul, Ia merupakan rombongan dari Hatta, Syahrir, dan para aktivis lainnya. Bondan ini menceritakan tentang perlakuan yang Ia dapatkan dari pemerintah kolonial Belanda, yang sering membuat permusuhan antara para tawanan, yang membuat tawanan saling bertengkar karena perbuatan mereka yang mengadu domba para tawanan kamp Digul.

    Kisah lain adalah tentang Ayun Sabiran, yang ditangkap pemerintah kolonial Belanda ketika hendak menyelundupkan bahan-bahan kimia ke Padang Panjang. Bahan Kimia yang Ia kirimkan ini digunakan sebagai bahan peledak untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Sebenarnya Sabiran hanyalah pesuruh dalam pergerakan kaum muda di Sumatera Barat. Akan tetapi keberaniannya dalam menyelundupkan da menyamar sebagai seorang Katolik membuat para pemerintah Hindia Belanda juga memasukan Ia kedalam daftar pemberontakan yang harus di kirim ke Kamp Digul. cerita tentang Ayun Sabiran ini diceritakan oleh putra pertamanya Misbach Yusa Biran, dalam bukunya “Kenang-kenangan Orang Bandel.”

    Kemudian cerita lagi dari Chalid Salim, yang merupakan salah seorang yang paling lama berada di barak Boven Digul ini, Ia berada di kamp Digul terhitung lama, sampai tahun 1943 dari rombongan pertama, Chalid ditangkap dalam kapasitasnya sebagai wartawan. Tulisan-tulisan tentang pemerintahan Belanda kerap kali membuat para kolonial Belanda Marah, sehingga Ia masuk dalamj juga dalam daftar tawanan yang harus dibuang ke kamp Digul. Beberapa tulisannya yang membuat kolonial Belanda naik pitam, ketika tulisannya terbit dalam sebuah harian Medan, Ia mengkritik pemerintahan Hindia Belanda, akan tetapi karena kritikannya tersebut, Ia dipenjara selama satu tahun, sebelum pada akhirnya Ia di kirim ke Boven Digul, Kisahnya ini diceritakannya dalam buku yang bertajuk “Vijftien Jaar Boven-Digoel Concentratiekamp op Nieuw-Guinea Bakermat van de Indonesische Onafhankelijkheid (terjemahan: Lima Belas Tahun Digul, Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea, Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia).”

    Satu lagi cerita dari seorang wartawan yang terkenal kisahnya dalam beberapa buku, yaitu kisah Marco Kartodikromo, Ia merupakan wartawan kiri, yang menulis di media massa hingga karena tulisannya, Ia keluar masuk Penjara. Ia juga merupakan anggota dari organisasi serikat Islam dan turut dalam pemberontakan Banten 1926. Setahun kemudian, Ia di buang ke Kamp Digul oleh kolonial Belanda, dan Ia meninggal di Barak pengasingan tersebut karena menderita TBC, dan jasadnya dikebumikan di daerah kampung B. Ceritanya ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, dalam buku berjudul Cerita dari Digul.

  • in

    Popular Cute

    Kerajaan Kandis berdiri sebelum 1 Masehi

    Kerajaan Kandis adalah kerajaan tertua yang berdiri di Sumatera, yang terletak di Koto Alang, masuk wilayah Lubuk Jambi,Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Diperkirakan berdiri pada tahun 1 SM.

    Nenek moyang Lubuk Jambi diyakini berasal dari keturunan waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain. Tiga orang putra Iskandar Zulkarnain yang bernama Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja berpencar mencari daerah baru. Maharaja Alif ke Banda Ruhum, Maharaja Depang ke Bandar Cina dan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra). Ketika berlabuh di Pulau Emas, Maharaja Diraja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang dinamakan dengan Kerajaan Kandis yang berlokasi di Bukit Bakar/Bukit Bakau. Daerah ini merupakan daerah yang hijau dan subur yang dikelilingi oleh sungai yang jernih.
    Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna.
    Istana Dhamna Sebagai Pusat Kerajaan Kandis
    Ratusan tahun sebelum Masehi Bukit Bakar mulai didatangi oleh Pendatang yang kurang jelas asal usulnya. Populasi penduduk makin lama makin berkembang, yang akhirnya memerlukan suatu aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemudian berdirilah Kerajaan Kandis di Bukit Bakar yang diperintah oleh Raja Darmaswara yang disingkat dengan Daswara. Raja Darmaswara dalam menjalankan roda pemerintahannya dibantu oleh Patih dan Temenggung serta Mentri Perdagangan. Darmaswara membangun sebuah istana yang megah sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama dengan Istana Dhamna.
    Dhamna merupakan nama istana Kerajaan Kandis. Secara turun-temurun cerita/tombonya masih tetap ada disampaikan dari generasi ke generasi. Masyarakat Lubuk Jambi meyakini istana ini masih ada, namun tertimbun dan sudah tertutupi oleh hutan yang lebat, atau lenyap dari pandangan manusia. Dalam ceritanya lokasi Istana Dhamna ini pada pertemuan dua sungai.
    Namun sampai saat ini belum pernah melakukan penelusuran ke lokasi yang dimaksud. Diyakini Istananya masih utuh karena peradaban Kandis sudah sangat maju, peralatannya terbuat dari emas, perak dan perunggu.
    Cerita Istana Dhamna mirip dengan cerita Benua Atlantis yang pertama kali ditulis dalam sebuah dialogue karya Plato yang berjudul Timateus and Critias sekitar tahun 370 SM, disana dikatakan ada negeri subur, makmur, dan berteknologi maju. Negeri itu hancur karena bencana alam, Plato sendiri mendapat kisah ini dari penduduk Mesir, dan orang di Mesir menyebutnya Keftiu.
    Atlantis itu artinya : Tanahnya Atlas – Negeri 2 pilar/tiang yang bisa diartikan sebagai negeri dengan pegunungan-pegunungan. Atlantis dikenal sangat subur, makmur, berteknologi tinggi, dengan kota berbentuk lingkaran/cincin yang tersusun daratan dan perairan secara berurutan, negeri ini disusun berdasarkan perhitungan matematika yang tepat dan efisien sehingga tertata dengan rapi dengan sebuah istana megah tepat di pusat kota sebagai pusat pemerintahan. Penduduk Atlantis terbagi dua, yang satu adalah turunan bangsa Lemuria yang berkulit putih, tinggi, bermata biru dan berambut pirangan, yang merupakan nenek moyang suku bangsa arya, sedang satunya lagi berkulit coklat/hitam, relatif pendek, bermata coklat, dan berambut hitam.
    Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
    Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
    Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
    Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Portugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu dan teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
    Dalam usaha mengemukakan pendapat berdasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan kekhilafan, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditantang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu.
    Lenyapnya Negeri Atlas disebabkan karena peristiwa besar terjadi, yaitu terjadinya letusan besar dari dua gunung berapi (pilar) yang mengapit, yaitu Krakatoa dan Toba. Saking dahsyatnya seluruh bumi berguncang hebat sehingga menimbulkan tsunami yang maha dahsyat, lebih hebat dari pada tsunami yang terjadi pada akhir tahun 2004. Gunung krakatoa dan toba adalah gunung prasejarah yang berukuran sangat besar, gunung krakatoa sekarang dan danau toba adalah kaldera raksasa yang tercipta akibat letusan tersebut. Letusan gunung toba sampai saat ini belum tau pasti kapan terjadinya, namun letusan Karaktoa yang paling dahsyat diketahui terjadi pada tahun 1883 M (puncak letusan Krakatoa).
    Istana Dhamna menurut tombo/cerita bukan tenggelam ke dasar lautan, akan tetapi diduga kuat tertimbun akibat abu vulkanik dari dua gunung yang bersamaan meletus. Lokasi Istana Dhamna tersebut adalah di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau. Apakah Istana Dhamna yang dimaksud oleh Plato sebagai Benua Atlantik? Suatu pertanyaan yang belum terjawab.
    Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.
    Ekonomi Kerajaan
    Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar,rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.
    Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.
    Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.
    Tidak diketahui secara pasti, kapan berdirinya Kerajaan Kandis. Yang pasti, kerajaan ini memang ada dan merupakan kerajaan tua yang keberadaannya mendahului Kuantan. Dalam kitab Negara Kertagama, terdapat nama-nama daerah di Sumatra yang termasuk dalam Kerajaan Majapahit. Kandis merupakan salah satu daerah yang disebut. Daerah-daerah lainnya yang disebut dan sekarang masuk wilayah Riau adalah Keritang (Indragiri Hilir), Siak, Kampar dan Rokan. Dari segi lokasi, ternyata kerajaan-kerajaan ini berada di sepanjang aliran sungai-sungai besar yang mengalir di Riau. Selain dari catatan sejarah dalam Negara Kertagama, bukti keberadaan Kerajaan Kandis ini dapat diketahui dari cerita-cerita rakyat.
    Ibukota kerajaan Kandis diperkirakan berada di desa yang sekarang dinamakan Padang Candi, suatu tempat di pinggir Batang Kuantan (nama Sungai Indragiri di bagian hulu), di seberang Lubuk Jambi. Desa tersebut dinamakan Padang Candi, karena berkaitan dengan keberadaan Kerajaan Kandis pada masa dulu. Di desa tersebut, masih bisa ditemukan reruntuhan bangunan dan batu bata kuno. Diduga, batu bata tersebut merupakan reruntuhan candi pemujaan. Oleh karena itu, desa tersebut kemudian dinamakan Padang Candi.
    Kandis merupakan sebuah kerajaan yang berdiri sendiri, karena daerahnya memang subur dan menghasilkan rempah-rempah, seperti lada. Tidak banyak yang dapat diketahui mengenai Kerajaan Kandis ini, apalagi setelah dikalahkan Jambi. Berkaitan dengan nama desa Lubuk Jambi, konon nama ini punya kaitan dengan peristiwa serangan Jambi ke Kandis. Ketika itu, pasukan Jambi melabuhkan perahu-perahunya di suatu lubuk (bagian sungai yang dalam), dan menjadikan lubuk tersebut pangkalan untuk menyerang Kandis. Selanjutnya, lubuk tersebut dinamakan masyarakat sebagai Lubuk Jambi. Tidak diketahui secara pasti, kapan serangan itu terjadi.
    Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).
    Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi (Sumatra Barat sekarang).
    Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) dimana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan. Kedua Tokoh inilah yang menjadi Tokoh Legendaris Minangkabau.
    Setelah kerajaan Kandis mengalahkan Kerajaan Koto Alang, Kandis memindahkan pusat pemerintahannya ke Taluk Kuantan oleh Raja Darmaswara (tidak diketahui Raja Darmaswara yang ke berapa). Pemindahan pusat pemerintahan Kandis ini disebabkan oleh bencana alam (tidak diketahui tahun terjadinya) yang mengakibatkan Istana Dhamna hilang tertimbun tanah atau mungkin oleh perbuatan makhluk halus yang menghilangkan istana dari pandangan manusia.
    Istana Dhamna yang hilang ini pernah diperlihatkan pada tahun 1984 kepada 7 (tujuh) orang Lubuk Jambi yang waktu itu mencari goa sarang layang-layang (walet) yang dipimpin oleh seorang guru Tharekat yang bergelar Pokiah Lunak. Mereka melihat istana itu lengkap dengan pagar batu disekelilingnya. Pada tahun 1986 untuk kedua kalinya pagar istana diperlihatkan kepada tiga orang yang sedang mencari rotan/manau. Berita penemuan Istana ini menyebar dan besok harinya banyak penduduk pergi ingin melihatnya, namun tidak ditemukan lagi. Begitulah sebagai bukti istana yang hilang yang bernama Istana Dhamna sebagai peninggalan sejarah Kerajaan Kandis, satu kerajaan yang tertua di Indonesia.
    Pada tahun 1375 M Dt. Perpatih Nan Sabatang dan Dt. Ketemenggungan dan beberapa orang lainnya hilir berakit kulim sebagai napak tilas pertama menelusuri negeri asal mereka melalui sungai keruh sesuai dengan peninggalan sejarah dari leluhurnya Dt. Perpatih Nan Sabatang yang pertama pindah ke Sumatra Barat. Dalam pelaksanaan hilir berakit tersebut banyak kesulitan karena sungai masih sempit banyak kayu dan akar yang menjuntai ke sungai, sehingga rakit sering tersangkut. Untuk mengelakkan halangan ini Dt. Perpatih Nan Sabatang selalu memerintahkan kuak-kan-tan, yang akhirnya Dt. Perpatih Nan Sabatang merubah nama Sungai Keruh menjadi Batang Kuantan yang berasal dari kata kuak-kan-tan.
    Setelah mereka sampai di Kerajaan Kandis Dt. Perpatih Nan Sabatang menukar nama Kerajaan Kandis dengan Kerajaan Kuantan yang pada waktu itu kerajaan Kandis diperintah oleh tiga Orang Godang, yaitu Dt. Bandaro Lelo Budi dari Kari, Dt. Pobo dari Kopah dan Dt. Simambang dari Sentajo yang selanjutnya dikenal dengan Tri Buana. Pemerintahan dipegang oleh Orang Godang disebabkan karena terputusnya Putra Mahkota dari Raja Darmaswara.
    Dt. Perpatih Nan Sabatang mengadakan pertemuan dengan ketiga Orang Godang tersebut serta menghadirkan pemuka masyarakat lainnya di Balai Tanah Bukik Limpato Inuman untuk memusyawarahkan persyaratan berdirinya satu Nagori di daerah Kuantan.
    Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).
    Memang, serangan Jambi tersebut telah meruntuhkan Kandis. Namun, Kandis tidak lenyap begitu saja, karena kemudian muncul Kerajaan Kuantan menggantikannya. Cerita mengenai ini tergambar dalam pantun yang masih dikenal di kalangan masyarakat Kuantan sampai sekarang, yaitu pantun Kandis-Kuantan. Dalam pantun tersebut tergambar bahwa, setelah Kerajaan Kandis runtuh, Kerajaan Kuantan berdiri menggantikannya.‎
    Kisah berdirinya Kerajaan Kuantan bisa dirunut dari kisah perjalanan Sang Sapurba.
    Pada tahun 1425 M Kerajaan Kuantan menerima tamu kehormatan yang berasal dari Kerajaan Chola dari India Selatan, yaitu Natan Sang Sita Sangkala dengan julukan Sang Sapurba. Sang Sapurba kawin di Semenanjung Malaka dengan Putri Kerajaan Sriwijaya yang bernama Putri Lebar Daun dan mendapatkan anak empat orang yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka, Putri Candra Dewi dan Putri Bilal Daun. Sesampainya di Kerajaan Kuantan Sang Sapurba diminta oleh Dt. Bandaro Lelo Budi, Dt. Pobo dan Dt. Simambang menjadi raja di Kerajaan Kuantan. Sang Sapurba menerima tawaran tersebut.
    Kerajaan Kuantan yang berpusat di Sintuo dibawah pemerintahan Sang Sapurba tidak banyak mencapai kemajuan. Peninggalan Raja Sang Sapurba hanya membuat danau Raja untuk pemeliharaan buaya di Paruso, membuat sumur dan kolam raja yang sampai sekarang masih ada bukti peninggalan Sang Sapurba tersebut. Disamping itu Sang Sapurba membunuh naga (ular) yang besar dengan keris Ganjar Iyas karena naga (ular) tersebut telah meresahkan masyarakat. Tempat mati naga (ular) tersebut diberi nama Punago artinya punah naga. Sedangkan Teluk Kuantan sekarang dijadikannya pelabuhan dagang.
    Pada tahun 1435 M Sang Sapurba yang datang dengan Ceti Bilang Pandai di Kerajaan Kuantan mohon diri dan melanjutkan perjalanan ke hulu Batang Kuantan (Sumatra Barat sekarang atau Minangkabau) dan menuju Pagaruyung di Tanah Datar. Sepeninggal Sang Sapurba berdirilah kerajaan-kerajaan kecil di Kuantan dan hilang fungsi Orang Godang nan batigo yang membantu Sang Sapurba dalam kerajaan Kuantan.
    Penyebaran keturunan kerajaan Kandis ke berbagai daerah di Sumatra ditandai dengan persamaan bahasa dengan bahasa orang Kuantan seperti ke Payakumbuh, Sibolga, Tapak Tuan, daerah Kampar, Jambi, Bengkulu dan daerah-daerah di Sumatra Barat.
    Dalam perjalanannya untuk membangkitkan kembali bangsa Melayu, armada Sang Sapurba tiba di Bintan. Di sini, ia menikahkan putranya, Sang Nila Utama dengan putri raja Kerajaan Bintan. Selanjutnya, Sang Sapurba kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat daya untuk mencari tempat baru yang luas, di mana terdapat bangsa Melayu.
    Akhirnya, armada Sang Sapurba sampai di muara sebuah sungai besar, yaitu Sungai Indragiri. Rombongan Sang Sapurba terus berlayar ke arah hulu Sungai Indragiri, hingga, suatu ketika, rombongannya kehabisan air, sementara air sungai masih terasa asin. Kemudian Sang Sapurba memerintahkan pengikutnya agar membuat lingkaran rotan seukuran perisai besar. Setelah rotan tersebut jadi, Sang Sapurba meletakkannya di atas permukaan air sungai yang asin, kemudian mencelupkan kakinya ke dalam lingkaran rotan tersebut. Tiba-tiba, air sungai yang semula asin berubah menjadi tawar. Konon, peristiwa tersebut terjadi di daerah Sapat, Indragiri Hilir. Rombongan Sang Sapurba mengambil perbekalan air secukupnya, kemudian kembali melanjutkan pelayaran menghulu Sungai Kuantan. Akhirnya, mereka sampai di pusat Kerajaan Kuantan di Sintuo. Pelabuhan yang dimiliki kerajaan ini sangat indah, terletak di dalam lingkaran lembah sebuah bukit. Di sana terlihat kapal-kapal para pedagang Cina dan India yang membawa berbagai barang dagangan untuk ditukar dengan emas.
    Ketika Sang Sapurba datang, Kerajaan Kuantan tidak memiliki raja. Oleh sebab itu, kedatangan Sang Sapurba disambut gembira oleh rakyat Kuantan, baik para pembesar, pemuka masyarakat, maupun rakyat jelata. Kemudian, mereka sepakat mengangkat Sang Sapurba menjadi raja, dengan persyaratan, Sang Sapurba bersedia membunuh Naga Sakti Muna yang telah merusak ladang milik rakyat.
    Sang Sapurba kemudian memerintahkan hulubalangnya, Permasku Mambang untuk membunuh sang naga dengan berbekal sundang (pedang modern) pemberian Sang Sapurba. Hulubalang Permasku Mambang berhasil membunuh naga tersebut, sehingga Sang Sapurba diangkat menjadi raja di Kuantan dengan gelar Trimurti Tri Buana. Dengan peristiwa ini, Kuantan kembali memiliki raja dan meneruskan warisan Kandis.
    Periode Pemerintahan
    Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Kerajaan Kandis-Kuantan ini berdiri. Data yang ada sangat minim dan tidak mampu menjelaskan secara lebih detil mengenai kisah kerajaan ini. Namun, ada informasi yang menyebutkan bahwa, ketika Kuantan berdiri menggantikan Kandis, ibukota kerajaan yang semula di Padang Candi dipindahkan ke Sintuo, seberang Koto Taluk Kuantan sekarang ini.
    Wilayah Kekuasaan
    Daerah kekuasaan Kerajaan Kandis-Kuantan lebih kurang meliputi daerah Kuantan sekarang ini, yaitu mulai dari hulu Batang Kuantan, negeri Lubuk Ambacang sampai ke Cerenti.
    Kehidupan Sosial Budaya‎
    Berikut ini sedikit gambaran mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat di Kuantan. Negeri ini disebut juga Rantau Nan Kurang Esa Dua puluh. Di setiap desa, ada tanah yang disebut tanah koto. Tanah koto ini adalah tanah perumahan yang menjadi milik bersama seluruh warga negeri. Setiap koto dikelilingi oleh parit yang lebar dan dalam pada tiga bagian sisinya, sedangkan satu sisi lain biasanya langsung berbatas dengan Batang (sungai) Kuantan.
    Di koto ini, terdapat rumah adat milik suku. Sementara tanah untuk perladangan,padang penggembalaan (padang rumput) untuk ternak, dan perkandangan terletak di luar koto. Setelah negeri berkembang dan menjadi ramai, banyak orang membuat rumah di tanah perladangan masing-masing. Dengan demikian, timbul banjar-banjar (dusun) baru. Semakin banyak penduduk suatu negeri, semakin banyak pula  banjarnya.
    Dalam perkembangannya, penduduk asli yang awalnya berdiam jauh dari sungai Kuantan dan hidup dari peladangan kasang, kemudian pindah ke banjar-banjar yang baru didirikan tersebut, dan membiasakan diri dalam perladangan padi pada tanah tetap.
    Dalam setiap banjar, terdapat empat suku, karena itu, tanah koto kemudian dibagi menjadi empat bagian. Pada tiap-tiap suku, terdapat empat orang pemangku adat, yaitu seorang penghulu sebagai kepala suku, seorang monti atau menti (menteri), seorang dubalang (hulubalang), dan seorang pegawai agama. Jadi, pemerintahan dalam suatu negeri di Rantau Nan Kurang Esa Dua Puluh terdiri dari enam belas orang, yang disebut dengan Orang Nan Enam Belas. Namun dalam rapat-rapat negeri, hanya penghulu saja yang berhak berbicara. Menti, Dubalang, dan pegawai agama hanya bertindak sebagai penasihat penghulu, yang hanya akan berbicara dalam rapat negeri atas permintaan penghulu masing-masing. Dalam rapat-rapat suku, ketiga orang pemuka adat tersebut memiliki kekuasaan dan hak yang sama dengan penghulu, karena masing-masing mengepalai atau mewakili sebagian dari suku.
    Di koto terdapat balai penghulu yang dinamakan balai adat. Tempat tersebut merupakan tempat Penghulu Nan Berempat bersidang untuk memutuskan perkara-perkara, dan membicarakan kepentingan negeri keseluruhannya. Setelah agama Islam masuk, susunan pemerintahan seperti ini tetap dipertahankan. Oleh karena itu, hanya di koto-lah terdapat tempat orang melakukan salat Jumat dan salat hari raya. Memiliki balai dan masjid merupakan syarat mutlak bagi sebuah perkampungan agar dapat dipandang sebagai suatu negeri.
    Di tiap-tiap banjar terdapat balai tua banjar, yaitu tempat keempat orang tua banjar bersidang membicarakan dan memutuskan perkara dan kepentingan banjar. Seorang tua banjar adalah wakil penghulu, tetapi tidak termasuk sebagai orang adat. Artinya, jabatannya tidak diwariskan menurut adat. Karena jumlah penghulu ada empat orang, maka tiap-tiap banjar pun memiliki empat orang tua banjar. Saat akan mengangkat orang tua banjar, penghulu harus berunding terlebih dulu dengan ketiga orang pemangku adat tersebut di atas.
    Tiap-tiap negeri merupakan daerah otonom yang memiliki wewenang penuh,genting memutuskan, bebiang mencabiakkan. Artinya, memutuskan setiap masalah yang timbul dalam negeri. Pada mulanya di setiap negeri terdapat seorang gedang, seorang sekoto. Namun lama-kelamaan orang gedang seorang sekoto terdesak oleh adanya semangat demokrasi, sehingga fungsinya tidak lebih dari “orang tua” (penasihat penghulu) dan akhirnya hilang sama sekali. Seperti dikatakan sebelumnya, dalam setiap negeri hanya terdapat empat suku dan empat orang penghulu suku.
    Dengan adanya orang gedang seorang sekoto tersebut, maka ada satu dari empat suku tersebut yang memiliki dua orang penghulu, yakni seorang penghulu suku dan seorang lagi orang gedang. Itulah sebabnya jabatan orang gedang tersebut lama-kelamaan hilang dengan sendirinya.
    Untuk mengurus kepentingan bersama dengan negeri-negeri tetangga, maka diadakan federasi-federasi. Pada awalnya di Rantau Kuantan terdapat tiga federasi, antara lain sebagai berikut.
    Empat Koto di Atas, terdiri dari negeri Sumpurago, Lubuk Ambacang, Koto Tuo, dan Sungai Pinang.
    Lima Koto di Tengah, terdiri dari negeri Kari, Taluk, Simandolak, Siberakun, dan Sibuaya.
    Empat Koto di Hilir, yaitu Pangian, Baserah, Inuman, dan Cerenti.
    Federasi Empat Koto di atas dikepalai oleh seorang Orang Gedang bergelar Datuk Patih yang berkedudukan di Lubuk Ambacang. Federasi Lima Koto di Tengah dikepalai oleh Datuk Bendaro Lelo Budi, yang bertempat di Kari. Dan Federasi Empat Koto di Hilir dikepalai oleh Datuk Ketumanggungan yang bertempat tinggal di Inuman. Ketiga federasi tersebut membentuk federasi lagi, yaitu Konfederasi Rantau Kuantan atau Rantau Nan Kurang Esa Dua Puluh. Dinamakan demikian, karena selain terdiri dari tiga belas negeri yang tergabung dalam ketiga ferderasi tersebut, masih ada negeri-negeri lainnya yang tergabung dalam konfederasi tersebut. Empat negeri lainnya, yaitu Teluk Ingin, Toar, Gunung, dan Lubuk Tarontang yang membentuk satu federasi juga yang disebut Empat Koto Gunung atau Empat Koto di Mudik. Federasi ini berada di bawah pimpinan Datuk Bendaro.
    Bukti-bukti Sejarah daerah Kuantan di Bawah Permukaan Laut
    Bukti daerah Kuantan dibawah permukaan laut dimasa Sumatra bernama Pulau Perca diantaranya adalah:
    Adanya tempat bernama Rawang Ojung (kapal kayu), ditempat ini dahulunya Ojung menjatuhkan sauh/jangkar (di Desa Pulau Binjai sekarang).
    Adanya tempat bernama Rawang Ojung/Rawang Tekuluk (di Desa Sangau sekarang).
    Ditemukannya fosil kerang laut di Sosokpan pada tahun 1982 oleh penduduk waktu menggali tanah membuat kebun. Dinamakan tempat ini dengan Sosokpan maksudnya ditempat ini dahulunya binatang menyosok/minum ke tepi pantai.
    Adanya nama tempat bernama Sintongah di Desa Sangau, dimana Raja Sintong (Raja Sriwijaya) mengadakan ekspedisi ke Kerajaan Kancil Putih dan ditempat ini mereka menjatuhkan jangkar, sehingga tempat ini dinamakan Sintongah.
    Pada tahun 2000 M ditemukan batu laut di daerah Cengar oleh seorang Mahasiswa Arkeologi dari Universitas Hasanudin Makasar.
    Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Kandis:
    Bekas penambangan emas yang disebut dengan tambang titah, artinya diadakan penambangan emas atas titah Raja Darmaswara. Lokasinya dikaki Bukit Bakar bagian timur yang lobang-lobang bekas penambangan telah ditumbuhi kayu-kayuan.
    Adanya daerah yang bernama Muaro Tombang (Muara Tambang) yang terletak di sebelah hilir tambang titah.
    Istana Dhamna yang berlokasi di Bukit Bakar (belum terungkap).
    Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Koto Alang:
    Adanya tempat yang disebut Padang Candi di Dusun Botung (Desa Sangau), menandakan Kerajaan Koto Alang menganut agama Hindu. Pada tahun 1955 M pernah dilakukan penggalian dan menemukan Arca sebesar botol, dan Arca tersebut sampai sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya. Dilokasi tersebut ditemukan potongan-potongan batu bata candi.
    Dilain tempat telah berulang kali diadakan penggalian liar dari situs Kerajaan Koto Alang tanpa diketahui maksud dan tujuan oleh penduduk dan tanpa sepengetahuan Pemangku Adat dan Pemerintah. Penggalian tersebut dilakukan dimana diperkirakan letaknya istana Koto Alang di Dusun Botung tersebut.
    Pada tahun 1970-an banyak penemuan masyarakat yang mendulang emas seperti cincin, gelang, penjahit emas, dan mata pancing dari emas.
    Pada tahun 1967 ditemukan tutup periuk dari emas di dalam sungai Kuantan. Tutup periuk emas ini diambil oleh pihak yang berwajib dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Diperkirakana tutup periuk ini terbawa arus sungai yang berasal dari tebing yang runtuh disekitar Kerajaan Koto Alang.
    Pada tahun 2007 dilakukan penggalian oleh Badan Purbakala Batu Sangkar bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Propinsi Riau tanpa sepengatahuan Pemangku Adat dan Pemerintah Daerah. Pada penggalian sebelumnya mereka menemukan mantra berbahasa sangskerta yang ditulis pada kepingan emas yang saat ini tidak diketahui keberadaannya.
    Adanya sungai yang mengalir dipinggir Padang Candi yang disebut dengan Sungai Salo yang berasal dari kata Raja Bukak Selo karena dikalahkan oleh Kerajaan Kandis.
    Adanya tempat bernama Lopak Gajah Mati sebelah selatan Pasar Lubuk Jambi. Tempat itu merupakan tempat Gajah Tunggal mati dibunuh oleh Raja Koto Alang yang dibunuh dengan lembing sogar jantan. Disebut Gajah Tunggal karena gading gajah tersebut hanya satu sebelah kiri kepalanya.
    Gading tersebut telah dijual pada tahun 1976 karena tidak tahu nilai sejarahnya. Didalam kepala gajah ditemukan sebuah mustika yang sangat indah sebesar bola pimpong. Sungai yang mengalir disamping Lopak Gajah Mati dinamakan dengan Batang Simujur, artinya mujur/beruntung membunuh gajah tersebut.
    Bukti Kerajaan Kancil Putih
    Adanya ekspedisi Raja Sintong (Raja Sriwijaya) ke Kerajaan Kancil Putih, sehingga ada nama tempat Sintongah di Desa Sangau.
    Demikianlah gambaran singkat tentang Pulau Atlas, Istana Dhamna, Kerajaan Kandis dan beberapa kerajaan yang pernah ada di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau (peta dan letak lokasinya dipegang oleh tim penelusuran peninggalan kerajaan Kandis yang dibentuk oleh Pemangku Adat Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal). Kalau Kerajaan Kandis ini Benua Atlantis yang dimaksud oleh Plato, berarti peninggalan Kerajaan Kandis termasuk warisan budaya dunia. Oleh karena itu partisipasi berbagai pihak (Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemangku Adat dan masyarakat setempat) sangat menentukan dalam mengungkap kembali pusat peradaban dunia tersebut.
    Ini hanyalah sebuah analisis pemikiran tanpa dasar ilmiah yang kuat, jadi sampai saat ini catatan tentang kerajaan Kandis sangat Minim, mungkin hanya terdapat dalam Kitab Negara Kertagama, mohon masukan dari yang lebih ahli, tentang Kerajan Kandis.‎
  • in

    Popular

    Kanker dalam manuskrip pengobatan di era Usmani

    Kanker merupakan penyakit mematikan yang ditakuti umat manusia. Badan kesehatan dunia, WHO memperkirakan pada 2010, kanker akan menjadi penyakit penyebab kematian nomor wahid di dunia mengalahkan serangan jantung. Menurut prediksi WHO, pada 2030, akan ada 75 juta orang yang terkena kanker di seluruh dunia.

    Sejatinya, kanker bukanlah penyakit baru. Di era kejayaan peradaban Islam, para dokter Muslim telah mampu mendiagnosis dan mengobati penyakit kanker. Tak hanya itu, dokter Muslim, seperti Ibnu Sina dan al-Baitar pun telah menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit yang mematikan itu.

    Adalah al-Baitar, seorang ilmuwan Muslim abad ke-12 M yang berhasil menemukan ramuan herbal untuk meng obati kanker bernama Hindiba. Ramuan Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu mengandung zat antikanker yang juga bisa menyembuhkan tumor dan ganguan-gangguan neoplastic.

    Kepala Departemen Sejarah dan Etika, Universitas Istanbul, Turki, Prof Nil Sari dalam karyanya Hindiba: A Drug for Cancer Treatment in Muslim Heritage, telah membuktikan khasiat dan kebenaran ramuan herbal Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu. Ia dan sejumlah dokter lainnya telah melakukan pengujian secara ilmiah dan bahkan telah mempatenkan Hindiba yang ditemukan al-Baitar.

    Menurut Prof Nil Sari, Hindiba telah dikenal para ahli pengobatan (pharmacologis) Muslim, serta herbalis di dunia Islam. Umat Muslim telah menggunakan ramuan untuk menyembuhkan kanker jauh sebelum dokter di dunia Barat menemukannya, ungkap Prof Nil Sari.

    Setelah melakukan pengujian secara ilmiah, Prof Nil Sari menyimpulkan bahwa, Hindiba memiliki kekuatan untuk mengobati berbagai penyakit. Hindiba dapat membersihkan hambatan yang terdapat pada saluran-saluran kecil di dalam tubuh, khususnya dalam sistem pencernaan. Tapi domain yang paling spektakuler adalah kekuatannya yang dapat menyembuhkan tumor ungkapnya.

    Untuk melacak khasiat dan ramuan Hindiba, Prof Nil Sari pun melakukan penelitian terhadap literatur pengobatan masa lalu. Ia melacak dua masterpiece ilmuwan Muslim, yakni Ibnu Sina lewat Canon of Medicine serta ensiklopedia tanaman yang ditulis al-Baitar.

    Ketika kami melihat teks lama secara lebih dekat, kami melihat adanya kebenaran yang sedikit sekali kami ketahui tentang ramuan tanaman (herbal) di masa lalu,ungkapnya. Dalam teks peninggalan kejayaan Islam itu dijelaskan bahwa Hindiba dan berbagai jenis herbal lainnya dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni herbal yang diolah dan herbal yang tak diolah.

    Menurut teks pengobatan kuno, keampuhan pengobatan kanker dengan menggunakan Hindiba didasarkan atas pertimbangan teoritis pengobatan, yakni efek obat-obatan medis beroperasi sesuai dengan sifat dari konstituen. Menurut Prof Nil, konstituen yang dihasilkan dari dekomposisi akan memiliki efek yang disebut energi. Potensi kualitas panas dan dingin dalam sifat obat akan keluar sebagai hasil dekomposisi dalam tubuh.

    Komponen aktif komponen alami yang panas akan segera bereaksi. Akan tersebar melalui jaringan secara efektif. Konstituen panas bereaksi sebelum konstituen dingin dan membersihkan hambatan dalam saluransaluran kecil pada bagian tubuh dan memperlancar penyebaran konstituen dingin. Kemudian, unsur dingin itu datang dan mulai berfungsi menjalankan fungsinya.

    Dalam risalah kedokteran berbahasa Arab, peninggalan era keemasan Islam, disebutkan bahwa semua jenis pembengkakan seperti kutil atau benjolan telah menyebabkan gangguan pada saluran. Sedangkan kanker digambarkan sebagai massa yang keras. Diidentifikasi sebagai pembengkakan yang keras, kanker berkembang dari kecil kemudian menjadi besar ditambah dengan rasa sakit.

    Mengutip catatan Ibnu Sina dalam Canon of Medicine, Prof Nil Sari mengungkapkan, tumor atau kanker, bila di biarkan akan semakin bertambah ukur annya. Sehingga kanker itu akan menyebar dan merusak. Akarnya dapat menyusup di antara elemen jaringan tubuh. Prof Nil Sari menemukan gambaran serupa tentang kanker dalam manuskrip pengobatan di era Usmani.

    Menurut Ibnu Sina, tumor digolongkan menjadi dua, yakni tumor panas dan dingin. Tumor yang berwarna dan terasa hangat saat disentuh biasanya disebut tumor panas, sementara tumor yang tidak berwarna dan terasa hangat disebut tumor dingin. Ibnu Sina menyebut kanker sebagai bentuk tumor yang berada di antara tumor dingin.

    Khasiat Hindiba diteliti Prof Prof Nil Sari dengan menyajikan data yang mendalam mengenai latar belakang teori percobaan invivo dan invitro dengan sari herbal dari Turki. Ia memulai dari filsafat Turki Usmani, yang berakar dari pengobatan Islam. Dalam karyanya ini, disebutkan bahwa obat Cichorium intybus L dan Crocus sativus L diidentifikasi sebagai alternatif tanaman yang identik satu sama lain yang merupakan komponen aktif untuk pengobatan kanker.

    Prof Nil Sari dan rekannya Dr Hanzade Dogan mencampurkan C intybus L dan kunyit (saffron) dari Safranbolu, seperti yang dijelaskan teks pengobatan lama. Yang lebih menarik adalah hasil penelitian laboratorium kami yang menunjuk kan bahwa dari ekstrak C intybus L yang ditemukan menjadi paling aktif pada kanker usus besar, ujar Prof Nil Sari.

    Menurut dia, Hindiba terbukti sangat efektif mengobati kanker. Sayangnya, kata dia, pada zaman dahulu, Hindiba lebih banyak disarankan sebagai obat untuk perawatan tumor. Hal itu terungkap dalam kitab Ibnu al-Baitar. Menurut al-Baitar, jika ramuan Hindiba dipanaskan, dan busanya diambil dan disaring kemudian diminum akan bermanfaat untuk menyembuhkan tumor.

    Pakar pengobatan di era Kesultanan Turki Usmani, Mehmed Mumin, mengung kapkan bahwa Hindiba bisa meng obati tumor dalam organ internal. Namun, lebih sering dianjurkan untuk perawatan tumor pada tenggorokan. Jika kayu ma nis di campurkan pada jus Hindiba (khu sus yang diolah dengan baik) dapat digunakan un tuk obat kumurkumur serta ber manfaat pula untuk perawatan tumor, sakit dan radang tenggorokan.

    Al-Baitar: Sang Penemu Hindiba

    Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi, itulah nama lengkap ilmuwan Muslim legendaris yang biasa dipanggil al-Baitar. Ia adalah seorang ahli botani (tetumbuhan) dan farmasi (obat-obatan) pada era kejayaan Islam. Terlahir pada akhir abad ke-12 M di kota Malaga (Spanyol), Ibnu Al-Baitar menghabiskan masa kecilnya di tanah Andalusia tersebut.

    Minatnya pada tumbuh-tumbuhan sudah tertanah semenjak kecil. Beranjak dewasa, dia pun belajar banyak mengenai ilmu botani kepada Abu al-Abbas al-Nabati yang pada masa itu merupakan ahli botani terkemuka. Dari sinilah, al-Baitar pun lantas banyak berkelana untuk mengumpulkan beraneka ragam jenis tumbuhan.

    Tahun 1219 dia meninggalkan Spanyol untuk sebuah ekspedisi mencari ragam tumbuhan. Bersama beberapa pembantunya, al-Baitar menyusuri sepanjang pantai utara Afrika dan Asia Timur Jauh. Tidak diketahui apakah jalan darat atau laut yang dilalui, namun lokasi utama yang pernah disinggahi antara lain Bugia, Qastantunia (Konstantinopel), Tunisia, Tripoli, Barqa dan Adalia. Setelah tahun 1224 al-Baitar bekerja untuk al-Kamil, gubernur Mesir, dan di percaya menjadi kepala ahli tanaman obat.

    Tahun 1227, al-Kamil meluaskan kekuasaannya hingga Damaskus dan al-Baitar selalu menyertainya di setiap perjalanan. Ini sekaligus dimanfaatkan untuk banyak mengumpulkan tumbuhan. Ketika tinggal beberapa tahun di Suriah, Al-Baitar berkesempatan mengadakan penelitian tumbuhan di area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina, di mana dia sanggup mengumpul kan tanaman dari sejumlah lokasi di sana. Sumbangsih utama Al-Baitar adalah Kitab al-Jami fi al-Adwiya al- Mufrada.

    Buku ini sangat populer dan merupakan kitab paling terkemuka mengenai tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan Arab. Kitab ini menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad ke-16. Ensiklopedia tumbuhan yang ada dalam kitab ini mencakup 1.400 item, terbanyak adalah tumbuhan obat dan sayur mayur termasuk 200 tumbuhan yang sebelumnya tidak diketahui jenisnya. Kitab tersebut pun dirujuk oleh 150 penulis, kebanyakan asal Arab, dan dikutip oleh lebih dari 20 ilmuwan Yunani sebelum diterjemahkan ke bahasa Latin serta dipublikasikan tahun 1758. Karya fenomenal kedua Al-Baitar adalah Kitab al-Mughni fi al-Adwiya al-Mufradayakni ensiklopedia obat-obatan.

    Obat bius masuk dalam daftar obat terapetik. Ditambah pula dengan 20 bab tentang beragam khasiat tanaman yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Pada masalah pembedahan yang dibahas dalam kitab ini, Al-Baitar banyak dikutip sebagai ahli bedah Muslim ternama, Abul Qasim Zahrawi. Selain bahasa Arab, Baitar pun kerap memberikan nama Latin dan Yunani kepada tumbuhan, serta memberikan transfer pengetahuan.

    Kontribusi Al-Baitar tersebut merupakan hasil observasi, penelitian serta peng klasifikasian selama bertahun-tahun. Dan karyanya tersebut di kemudian hari amat mempengaruhi perkembang an ilmu botani dan kedokteran baik di Eropa maupun Asia. Meski karyanya yang lain K itab Al-Jamibaru diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa asing, namun banyak ilmuwan telah lama mempelajari bahasan-bahas an dalam kitab ini dan memanfaatkannya bagi kepentingan umat manusia.

Load More
Congratulations. You've reached the end of the internet.